![]() |
| canva.com |
“Bu, nanti kalau sudah pensiun, setiap bulan dapat uang dari mana?” Pertanyaan sederhana itu terdengar biasa. Tetapi bagi seseorang yang sedang mendekati masa pensiun, pertanyaan tersebut sebenarnya cukup menggelisahkan.
Selama puluhan tahun kita terbiasa menerima penghasilan setiap bulan. Ada gaji, tunjangan, bonus, bahkan THR. Lalu tiba-tiba datang satu hari ketika gaji berhenti.
Pengeluaran tidak ikut berhenti.
Listrik tetap harus dibayar. Makan tetap membutuhkan biaya. Obat dan pemeriksaan kesehatan justru mungkin semakin sering. Kita juga tentu ingin sesekali bepergian, berkumpul dengan teman, atau membantu keluarga.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar:
“Berapa sebenarnya uang yang harus saya siapkan agar tetap bisa hidup layak setelah pensiun?”
Di Indonesia, situasinya tidak sama bagi semua orang. PNS memiliki sistem pensiun yang relatif terstruktur. Sementara pekerja swasta dan terutama pekerja informal perlu lebih aktif menyiapkan sumber penghasilan masa tua mereka sendiri.
Memang ada program JHT dan JP bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan, tetapi manfaat yang diterima belum tentu cukup untuk mempertahankan gaya hidup setelah tidak lagi bekerja.
Bandingkan dengan Australia.
Di sana, masyarakat lanjut usia tidak selalu didorong untuk berhenti bekerja sepenuhnya. Pemerintah justru memiliki berbagai kebijakan yang memungkinkan lansia tetap bekerja secara part-time, sambil tetap memperoleh dukungan melalui sistem pensiun dan manfaat pemerintah. Dengan begitu, mereka dapat memiliki lebih dari satu sumber pemasukan.
Pensiun tidak selalu berarti berhenti menghasilkan uang.
Lalu bagaimana dengan kita yang belum memiliki tabungan pensiun yang cukup?
Salah satu konsep yang menarik untuk dipelajari adalah 4% Rule.
Bayangkan saat pensiun kita ingin memiliki penghasilan sekitar Rp.10 juta setiap bulan, atau Rp120 juta setahun.
Dengan hitungan yang sangat sederhana, tanpa memasukkan inflasi, jika kebutuhan tersebut ingin ditopang selama 25 tahun:
Rp120 juta × 25 tahun = Rp3 miliar.
Nah, dari sinilah konsep 4% Rule mulai menarik.
Jika memiliki dana Rp3 miliar dan mengambil sekitar 4% per tahun, maka:
4% × Rp3 miliar = Rp120 juta per tahun
atau sekitar:
Rp10 juta per bulan.
Tentu, ini baru ilustrasi sederhana. Dunia investasi tidak sesederhana perkalian tersebut. Ada inflasi, pajak, biaya investasi, naik-turunnya pasar, usia harapan hidup, dan kebutuhan kesehatan yang dapat berubah.
Tetapi justru di situlah nilai dari 4% Rule:
Ia memberi kita sebuah angka untuk mulai berpikir.
Bukan sekadar bertanya, “Nanti saya hidup dari apa?”
Melainkan mulai bertanya:
“Berapa sebenarnya dana yang harus saya persiapkan agar uang saya dapat membantu membiayai masa tua?”
Karena pensiun yang nyaman bukan hanya tentang berhenti bekerja.
Pensiun adalah tentang tetap memiliki pilihan ketika gaji sudah tidak lagi datang.





