![]() |
delivery-male-with-mask-packages.jpg |
Siapa sangka, perjalanan pulang setelah berbelanja sayur dan kebutuhan sehari-hari justru menghadirkan pelajaran kehidupan yang tak pernah saya rencanakan?
Awalnya, saya hanya kesal karena jaringan internet tiba-tiba hilang. Saya tak bisa memesan kendaraan online untuk pulang. Namun, gangguan kecil itu membawa saya pada sebuah perjumpaan yang menyentuh hati—dengan seorang pengemudi ojol yang diam-diam sedang berjuang melawan kanker.
Siapa sangka, perjalanan pulang setelah berbelanja sayur dan kebutuhan sehari-hari justru menghadirkan pelajaran kehidupan yang tak pernah saya rencanakan?
Siang itu, saya baru selesai berbelanja di Lotte Mart. Namun, ada masalah kecil yang membuat saya kesal: jaringan internet di ponsel tiba-tiba hilang. Saya tak bisa memesan kendaraan online untuk pulang.
Terpaksa, saya mendekati sebuah toko roti Mako. Sambil membeli roti yang sebenarnya tidak saya perlukan, saya meminta bantuan kasir untuk menyambungkan kembali jaringan internet di ponsel saya.
“Bisa, Bu!” jawabnya sigap.
Setelah membantu memasukkan jaringan dan kata sandi, ia mengingatkan saya agar tidak menjauh dari toko karena khawatir internet kembali terputus.
Begitu mobil pesanan datang, saya segera bergegas keluar. Saat hendak masuk, saya terkejut melihat dua orang membantu memasukkan tas-tas belanjaan saya: seorang satpam dan pengemudi ojol itu sendiri.
Sungguh perhatian yang tidak saya duga. Biasanya, pengemudi menunggu sementara penumpang memasukkan barang belanjaannya sendiri.
Saya belum memahami makna di balik kebaikan kecil itu ketika perjalanan kami berlanjut.
Jalanan mulai macet.
Untuk mencairkan suasana, saya menawarkan permen Fisherman's Friend kepada pengemudi.
“Tidak, Bu. Hampir semua bibir saya sariawan,” jawabnya sopan.
Saya terkejut. Ketika saya bertanya lebih lanjut, ia bercerita bahwa dirinya baru menjalani operasi kanker toraks untuk ketiga kalinya.
Dengan sedikit membuka bagian atas bajunya, ia memperlihatkan bekas operasi yang masih tertutup perban putih.
Hati saya terenyuh.
Saya bertanya apakah ia masih bisa makan dengan kondisi sariawan sebanyak itu. Ia menjawab bahwa ia kesulitan makan.
“Waduh, setelah operasi, tubuh tentu membutuhkan makanan bergizi untuk pemulihan,” kata saya. Saya lalu menawarkan untuk membelikannya obat sariawan di apotek yang akan kami lewati.
Ia mengangguk, sambil memastikan bahwa hal itu tidak merepotkan saya.
Perjalanan yang semula hanya saya isi dengan percakapan ringan berubah menjadi kisah perjuangan hidup.
Ia bercerita bahwa kanker yang dideritanya sudah berada pada stadium empat. Operasi terakhirnya, menurut ceritanya, belum dapat mengangkat seluruh penyakit karena sudah ada penyebaran.
Namun, ia merasa lebih nyaman setelah benjolan tersebut diangkat.
Ia juga bercerita bahwa baru saja menunaikan ibadah umrah, dengan bantuan biaya dari keluarga besarnya. Jadwal operasi yang semula direncanakan pada Juni 2027 ternyata bisa dimajukan.
“Saya sudah pasrah saja, Bu,” katanya.
Kalimat itu membuat saya terdiam sejenak.
Di tengah perjuangan menghadapi penyakit berat, ia masih berusaha menjalani hidup dengan keyakinannya kepada Tuhan.
Namun, ada kenyataan lain yang membuat hati saya semakin terenyuh. Keluarganya sebenarnya melarang ia bekerja sebagai pengemudi ojol. Akan tetapi, ia memiliki tiga anak yang masih kecil, sementara istrinya sudah berhenti bekerja tiga bulan sebelumnya.
Usianya baru 38 tahun.
Saya membayangkan tiga anak kecil yang masih membutuhkan kehadiran ayahnya. Di usia ketika banyak orang masih membangun masa depan, ia justru harus berjuang menghadapi penyakit serius sekaligus memikirkan kebutuhan keluarganya.
Perjalanan siang itu tiba-tiba terasa begitu berbeda.
Saya berangkat dengan keluhan sederhana karena kehilangan jaringan internet.
Namun, saya pulang dengan kesadaran baru bahwa di sekitar kita ada orang-orang yang sedang memikul beban kehidupan yang jauh lebih berat daripada yang terlihat.
Saya memang hanya bisa memberikan bantuan kecil berupa obat sariawan dan sedikit perhatian. Tetapi, saya belajar bahwa kebaikan tidak selalu harus menunggu kita memiliki banyak uang, waktu, atau kesempatan besar.
Kadang-kadang, kebaikan justru hadir ketika kita bersedia mendengarkan, peduli, dan melakukan sesuatu yang sederhana bagi orang lain.
Ketika mobil tiba di depan rumah, pengemudi itu kembali turun untuk membantu menurunkan barang belanjaan saya.
Lalu, ia berkata dengan penuh haru, “Mohon maaf, Bu, saya mencium tangan Ibu untuk berterima kasih. Saya sangat bersyukur bertemu Ibu hari ini.”
Saya terdiam. Saya merasa bahwa bukan hanya dia yang menerima sesuatu dari perjumpaan ini. Saya pun mendapatkan pelajaran berharga.
Saya hanya mampu menjawab dengan tulus, “Semoga engkau diberi kekuatan dan kesembuhan. Saya percaya Tuhan menyertaimu dalam perjuangan ini.”
Hari itu saya memahami satu hal: kita tidak pernah tahu pergumulan apa yang sedang disembunyikan seseorang di balik senyumnya, pekerjaannya, atau sikapnya yang terlihat biasa.
Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh keadaan hidup seseorang.
Namun, kita selalu bisa memilih untuk tidak bersikap acuh tak acuh.
Sebab, terkadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan karena kita mampu menyelesaikan seluruh masalahnya, melainkan agar melalui hal kecil yang kita lakukan, ia merasakan bahwa dirinya tidak sendirian.




