Featured Slider

Hari Buku Nasional dan Krisis Literasi Baca yang Diam-Diam Mengkahawatirkan

Di tengah jari yang sibuk menggulir layar tanpa henti, buku perlahan kehilangan tempatnya, Hari Buku Nasional seharusnya menajdi pengingat pentingnya literasi, tetapi kenyataanya minat baca di Indonesia masih memprihatinkan. Buku Sering dianggap sekadar pelengkap, bahkan kalah penting dibanding gadget yang mampu menyajikan hiburan instan hanya dalam hitungan detik. Padahal, dari lembar-lembar bukulah lahir cara berpikir kritis, imajinasi, dan kedalaman pengetahuan yang tak selalu bisa diberikan oleh layar. 


Ketika saya jalan-jalan dan duduk di suatu transportasi umum, apa yang dilakukan oleh para penumpang? Dengan santainya para penumpang , baik itu lelaki maupun perempuan, mulai memegang Handphone. Mereksa sangat fokus dengan scrolling dan menatap layar tanpa berkedip. Apakah mereka itu membaca atau sekedar scrolling? Ketika saya berada di dekat mereka, ternyata mereka mencoba mencari apa yang sedang tren saat ini, baik itu musik, pakaian atau film.

 Di tempat yang berbeda, ketika saya masuk ke sebuah toko buku Gramedia, menyusuri beberapa tempat yang dijadikan nongkrong baca buku. Namun, di bagian belakang, ada lorong yang kecil tapi terang dan terdengar music yang mengalun. Di sana banyak yang nongkrong baik anak muda lelaki maupun perempuan. Maklum jam makan siang , suasana makin ramai. Tentu saja waktu makan untuk makan, tapi ada sekelompok anak muda yang memojok di suatu tempat , di sana mereka asyik sekali dengan laptopnya dan gadgetnya. 

 Bagi mereka yang asyik dengan laptop, pekerjaan jadi faktor utamanya untuk diselesaikan. Suasana nyaman begini memang dicari oleh mereka yang senang suasana homy dengan alunan music ringan. Tak ada seorang pun yang baca buku, padahal café ini justru berada di balik (paling belakang dari toko buku). 

 Dari dua scenario itu saya harus membongkar lebih dalam lagi kenapa anak-anak muda , khususnya generasi Z tidak menyukai baca buku di waktu senggangnya. Seolah buku itu sudah kuno, atau mereka lebih suka buku digital, ketimbang buku yang dicietak tebal? 


 Arti buku bagi seseorang 


kita masih usia 4-5 tahun, dipaksa oleh orang tua untuk bisa membaca. Nanti jika tidak bisa baca , tidak bisa masuk ke sekolah dasar karena syarat utama adalah mampu membaca dengan lancar. Lalu, anak yang dulunya masih suka bermain, dipaksa mengeja, bahkan terus diajak untuk mampu mengeja satu kata yang dibaca satu per satu misalnya: Ba-bi-bu atau i-ni si-di-di, diulang hingga lancar.

 Dalam membaca cepat itu, ternyata sekarang diterpakan juga baca cepat. Namun, apa yang dibaca itu bukan buku melainkan media sosial. 

 Literasi baca merujuk kepada kemampuan seseorang untuk membaca, menginterpretasi teksi baik dalam bentuk tulisan maupun teks visual. Bukan sekedar mengenal huruf, kata, tetapi mampu menganlisis, menilai, mengunakan informasi dari bacaan itu.

 Literasi itu penting banget sebagai fondasi perkembangan individu dalam semua aspek kehidupan. Jika individu itu tingkat literasi baca yang tinggi, dia akan cenderung punya pengetahuan yang luas, kemampuan berpikir kritis dan punya daya saing yang tinggi dalam pendidikan maupun dunia kerja. 

Sayangnya, Indonesia, menurut artikel Unesco, indeks minat baca orang Indonesia hanya di angka 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin baca. Hal ini menyebabkan peringkat Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara (melorot paling rendah, di bawah Thailand dan di atas Bostwana. 

 Apakah pengaruh besar digital? 


Kemalasan kita untuk baca , salah satunya akibat dari pengaruh teknologi digital. Teknologi digital ini sangat berkontribusi pada penurunan minat baca yang mendalam dan mengubah jadi konsumsi informasi instan. Di era digital, hampir semua orang lebih menyukai cari informasi lewat digital ketimbang cari lewat buku. 

Disrupsi literasi, orang senang menatap layar berjam-jam, menyebabkan rendahnya fokus dan dangkalnya pemahaman informasi.

 Kadang-kadang hal itu memang tanpa disadari oleh orang . Namun, sering terjadi ketika orang diberikan pilihan apakah mau mencari sumber referensi lewat buku atau lewat berbagai journal website. 

Faktor uamg membuat orang lebih suka jurnal digital dibandingkan buku fisik karena faktor kecepatan, aksesbilitas, dan aktualitas inforamsi. Kecepatan dan kemudahan akses dalam arti 24 jam, dapat diakses terus. Bahkan aksesbilitas global, dimana pun dan kapan saja tanpa harus ke perspustakaan. Praktis tidak perlu bawa buku tebal, ribuan jurnal mudah disimpan dalam satu perangkat. Informasi pun terkini dan relvan dan actual.

 Lalu bagaimana dengan buku tebal? Meskipun banyak kelemahannya seperti terbatas dan repot harus bawa, lambat waktunya, dan jarang sekali terupdate, bahkan pencariannya juga secara manual, tetapi keunggulannya adalah pemahaman konsep yang mendalam, terstruktur dan pengalaman membaca yang lebih nyaman bagi mata tanpa eye strain dari layar. 

 Bagaimana jawab tantangan untuk penerbit maupun pembaca? 

Penerbit ditantang untuk bisa tetap menjaga mutu buku. Dalam hal ini penerbit menyanggupi untuk berkualitas. Namun, jika penerbit harus jawab tantangan kedua yang berat yaitu buku harus murah, ini yang tidak mungkin dilakukan.

 Banyak faktor dari pihak penerbit yang harus jadi tantangan untuk  membuat buku murah misalnya biaya produksi (kertas dan cetak), biaya distribusi mahal dan ancaman pembacakan, pergeseran pembaca ke format digital.

 Menjawab tantangan di atas, penerbit buku harus punya strategi berikut ini:

Dalam hal disrupsi digital dan penurunan minat cetak: Diversifikasi produk menerbitkan versi-e-book dan audiobook Penerbitan hybrid: menggabugnkan penerbitan fisik dengan pemasaran digital yang kaut Adaptasi konten: Membuat konten yang interaktif 

 hal pembajakan: Penerbit perlu edukasi konsumen, dampak negatif pembajakan bagi penulis dan industrii. Penegakan hukum, harus hukum penjual buku bajakan. Harga kompetitif yang lebieh terjangkau. 

Dalam hal distribusi dan pemasaran Melakukan pemanfaatan e-commerce dan pemasaran digital dengan strategi marketing. Dalam hal biaya produksi: Printo on demand sesuai dengan pesanan, esfisiensi editorial menggunakan teknologi untuk mempercepat penyuntingan dan tata letak.

 Tantangan bagi pembaca 

Membuat buku sebagai sebagai budaya baca . Dari segi psikologis dan menal, melemahnya atensi atau fokus harus diarahkan untuk tidak cepat bosan, manusia lebih cenderdung visual. Jangan anggap membaca sebagai beban tetapi sebagai hobi dan petualangan yang menyenangkan. 

Jika lingkungan selalu membuat distraksi digital, maka stop atau mengurangi distraksi itu. Jika aksebilitas buku jadi hambatannya, maka dukung hambatan itu dengan mencari peminjaman buku yang murah atau cari perspustakaan.

 Untuk tantangan kognitif dan dampaak sosial, membaca buku memang butuh latihan . Otak yang tidak dilatih dengan teks panjang dan mendalam, harus mulai dilatih sedikit demi sedikit. Juga harus mampu berpikri kritis , mampu berpikir dengan wawasan luas. Juga mampu memberikan 

Kesimpulan dan ide inovatif kreatif yang seringkali hambat mahasiswa dan profesional .

Garut, Kota yang Selalu Punya Cara Membuat Rindu Pulang

Garut
Garut  (Sumber: Dokpri)



Di antara dinginnya pegunungan, hamparan kebun the, aroma dodol yang khas, dan hangatnya keramahan warganya, Garut bukan sekedar tempat singgah, tetapi tempat yang diam-diam membuat hati ingin kembali. 


Pagi buta jam 4.00 alarm berbunyi kencang. Yach biasanya jam segini, aku masih tidur nyenyak. Tapi pagi ini terpaksa buka mata karena harus siap-siap untuk berangkat jam 5:10 ke stasiun Gambir. 

Tanggal 28 April 2026, memang sengaja pilih hari Selasa karena pikir jika berangkat weekdays , tempat seperti Garut tidak ramai dan berjejal. Semua pasti masih konsentrasi kerja dong! 

Namun, begitu masuk taxi biru, supir taxi langsung tanya “Bu , yakin keretanya jalan?” Hati berdegung kencang, “Meman gada apa Pak?” tanyaku. “Loh, kemarin malam jam 21.30 ada kecelakaan taxi lawan kereta, lalu kereta lawan kereta!” Wah aku makin bingung bisa ngga jadi nich berangkat!”

 Lalu, aku tanya suami, “Apa ada pengumuman dari KAI tentang keberangkatan kita?” Dia berkata: “Ngga ada khan sudah semalaman, pasti evakuasi sudah beres!” katanya sambil meyakinkan.

Kami tiba di stasiun Gambir, masih sepi karena masih jam 6.00. Langsung face recognition karena saya sudah lama tak naik kereta api (data face recognition hanya 6 bulan dari keberangkatan terakhir). Akhirnya selesai itu, kami duduk sebentar sekitar 30 menit , setelah itu kami melihat di papan, KA Papandayan tidak ada cancellation sama sekali. Jadi kami naik ke platfom di atas. Ngga disangka ternyata platform 1 tempat penumpang Agro Muria yang seharusnya berangkat jam 6.00 ternyata belum juga berangkat dan kereta belum muncul . Sementara ka Papandayan sudah muncul dan kami bisa masuk ke kereta. 

 Begitu kereta jalan, mendekati Stasiun Bekasi, jalannya makin lambat dan akhirnya berhenti. Tanpa ada pengumuman atau apa pun, kami harus menunggu hampir 2 l/2 jam. Permintaan maaf akhirnya didengungkan tanpa adanya penjelasan. Capai banget dech. Itinerary yang disiapkan harus di skip beberapa karena waktunya tidak mencukupi. 

Sukaregang


 Tepat pukull 14.30 kami baru tiba di Garut, langsung menuju ke Sukaregang tempat UMKM yang berjualan produk kulit , dalam bentuk tas, Sepatu, dompet , sabuk. Wow, kualitasnya bagus, harga terjangkau. Waktu yang sangat singkat dan padat, kami hanya masuki 3 toko saja. 

Setelah memilih dan mendapatkan produk yang sedang dicari, segera kami meluncur ke Kebun Bunga Situhapa. Sempat kaget tiba-tiba hujan keras di Garut, mau ke kebun yang tempatnya lebih tinggi dari Garut, apa ngga hujan juga, lalu gimana hujan mau lihat apanya? Ternyata, kami masih mendapatkan anugerah, cuaca terang benderang . Persis pukul 16.10 (jelang tutup jam 17:00) kami tiba di kebun Bunga Situhapa. 

Kebun Bunga Situhapa



Garut


 Tiketnya per orang Rp.35.000 . Letak kebun ini 1.100 di atas permukaan laut. Dikelilingi oleh Gunung Guntur, Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan. Sepanjang mata memandang terlihat bunga-bunga yang bermekaran, mulai dari mawar dengan warna warni, ada 150 jenis . Ejosistem bunga mawar yang dirawat dengan baik. 

 Ada 500 jenis tanaman dan pepohonan di taman yang sejuk dan asri ini. Termasuk salah satunya Damask Rose, yang dibuat jadi minyak atsiri, air mawar dan the mawar. Juga aneka begonia, koleksi katus dan Agave. Bunga eksotik lainnya The Flame of Irian dan anggrek. 

RM Botram dan Oleh-oleh

Garut, RM Botram
Paket Makanan di Botram



 Selesai itu kami segera kami turun ke Garut, menuju tempat oleh-oleh yang terbesar di Garut. Cukup beli oleh-oleh makanan sebentar. Dilanjutkan makan malam , RM Botram Garut,. Areanya luas , nyaman dan ada dua jenis makanan . Yang pertama sudah disiapkan dengan aneka makanan siap saji, ada paket liwet , ayam bakar/goreng, gurami, jengkol, tahu, tempe aneka sambal. Paket Botram menu satuan, Western dan Chinese Food. Lumayan enak dan gurih untuk pesanan paket ayam garangan. 

Rancabango Resort

Rancabango (DOKPRI)







 Selesai makan segera meluncur ke Hotel & Resort Rancobango, lokasinya dekat dan tidak jauh dari tempat makan. Berhubung waktu sudah cukup malam 19:30, kami langsung di antar ke kamar di hotel itu. Esoknya saya sempat bangun pagi jam 6:00, penginnya jalan kaki sepanjang Resort, ternyata jam 6:00 pagi sudah terlalu siang karena banyak kendaraan dan saya melihat banyak sawah kiri dan kanan sudah begitu banyak bangunan baik itu tempat nongkrong permanen maupun Indomaret. Hanya udara segar dari pegunungan Gunung Guntur. Perjalanan kakai itu dilanjutkan dengan makan pagi dan ambil foto untuk spot yang sangat cantik, sawah, tempat gapura bernuansa Bali dan jembatan yang sangat estetis. Saya akhiri cerita perjalanan Garut ini, terlalu singkat jika hanya dua hari karena seharusnya tiga hari banyak tempat yang belum sempat dikunjungi seperti Kawah Kamojang dan tempat lainnya.














Ketika Layar Menggantikan Kata: Bahaya Screen Time Pada Perkembangan Bahasa Anak

screen time pada perkembangan anak
kid-having-so-much-screen-time:  Sumber: Freepik.com

Pernahkah Anda melihat balita yang begitu lihai menggeser ponsel , tetapi kesulitan mengucapkan kata sederhana seperti “mama” atau “mau”? Di era digital ini, kemampuan anak menggunakan gadget sering kali berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan berbicaranya. Pertanyaan apakah ini kebetulan, atau ada kaitannya? 


 Alya, seorang anak perempuan usia 3 tahun, sejak dia sering ditinggalkan oleh ibunya yang bekerja, dia sudah terbiasa nonton video di ponsel sejak usia setahun. Apabila dia rewel, ibunya selalu memberikan gadget sebagai pengganti tangisannya. 

 Ketenangan Alya untuk duduk berjam-jam menonton kartun , membuat Ibu sangat senang karena dia bisa mengerjakan pekerjaan yang lain, bahkan ibunya sendiri bisa bermedia sosial . Sejak Alya main dengan ponsel, dia jarang bermain dengan anak-anak yang lainnya.

Bahkan, dia bisa duduk berdiam diri tanpa memperhatikan siapa yang datang, dia bisa hafal lagu dan cerita kartun. Namun, ketika dia diajak bicara, ia jarang merespons. Kata-kata yang ke luar masih terbatas.

 Padahal anak seusianya sudah mulai menggunakan kalimat terdiri 3-4 kata, memahami 200-500 kata, meskipun bicaranya kadang sulit dimerngeri. Namun, dia bisa menyebutkan nama, usia, jenis kelamin, dan paham instruksi dua langkah, misalnya “Ayo ambil Sepatu lalu pakai!”. 

Sayangnya, Alya justru tidak bergeming dan tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Sulitnya sama sekali. Dia tak pernah diajak berinteraksi oleh ibunya. Yang ada adalah sodoran gadget yang jadi teman utamanya. Kasus seperti Alya bukanlah kaus tunggal. Banyak anak yang terlihat “tenang” karena layar, tetapi sebenarnya kehilangan kesempatan penting berlatih komunikasi secara langsung.

 Korelasi Screen Time dengan bahasa Anak yang tidak lancar 


Bahasa anak sangat bergantung pada interaksi dua arah, mendengar, meniru dan merespons. Screen time yang berlebihan cenderung bersifat pasif. Anak hanya menerima stimulus tanpa kesempatan berlatih bicara. Beberapa dampak yang sering terjadi: Anak kurang kosakata karena minim percakapan langsung 

Keterlambatan bicara Kesulitan memahami konteks komunikasi 


Kurangnya kontak mata dan respon sosial Ketika layar menggantikan peran orang tua dalam berkomunikasi, anak kehilangan “latihan alami” yang sangat penting untuk perkembangan bahasa. Cara mencegah anak terpapar screen time berlebihan.

 Pencegahan bukan berarti melarang total, tetapi mengatur dengan bijaksana.

 Berikut ini langkah yang bisa dilakukan:


  •  Batasi durasi: Untuk balita, usia 1-2 tahun dilarang untuk diberikan gadget, usia 3-5 tahun cukup satu jam dalam sehari dengan pendampingan orang tua atau perawat.
  • Prioritaskan interaksi langsung: Anak ajak bicara, baca buku, atau bermain bersama.
  • Jadwalkan waktu tanpa layar: Misalnya makan, sebelum tidur, dan waktu keluarga. 
  • Jadi role model: Kurangi penggunaan gadget di depan anak.
  • Pilih konten berkualitas dan damping: Jika terpaksa menggunakan layar, pastikan ada interaksi.
  • Kunci utamanya adalah anak belajar bahasa dari manusia bukan dari layar. 

 Sebelum terlambat , sesudah terlambat


Pesan penting untuk Orang tua Sebelum terlambat, penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa masa emas perkembangan bahasa terjadi di usia dini. Setiap percakapan kecil, setiap respon terhadap ocehan anak adalah fondasi besar bagi kemampuan komunikasi di masa depan. 

Jika sudah terlanjur terpapar, jangan panik. Masih ada harapan untuk memperbaiki:

  •  Kurangi screen time secara bertahap 
  • Tingkatkan interaksi verbal setiap hari 
  • Konsultasikan dengan ahli jika diperlukan 

Pesan terpentingnya: 


 Anak tidak butuh layar untuk berkembang, mereka butuh kehadiran, suara dan perhatian dari orang tuanya. Screen time memang terjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, ketika layar mulai menggantikan interaksi, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah ini membantu, atau justru menghambat? 

Bahasa adalah jembatan anak untuk memhami dunia dan mengekspresikan dirinya. Jangan biarkan jembatan itu rapuh hanya karena kita terlalu sibuk memberikan layar sebagai pengganti kehadiran. Karena pada akhirnya bukan seberapa canggih teknologi yang dimiliki anak, tetapi seberapa bai kia mampu berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya.

Kekhawatiran yang Diam-Diam Menggerogoti: Mengenali Batas, Dampak dan Cara Mengatasinya

Kekhawatiran
sad-hopeless-young-woman-sitting-alone-home-feeling-desperate.jpg



Pernahkah Anda merasa cemas tanpa alasan jelas, seolah pikiran tidak pernah benar-benar istirahat? Kekhawatiran yang awalnya kecil bisa tumbuh menjadi beban besar yang mempengaruhi kesehatan, hubungan, bahkan cara kita menjalani hidup. Tanpa disadari, kita bukan hanya memikirkan kemungkinan buruk, kita sedang hidup di dalamnya berulang-ulang. 


Di hari-hari belakangan ini, dijumpai orang baik dewasa, tua , anak muda yang dari fisiknya terlihat sehat dan baik-baik saja. Namun, ketika kita sudah bicara dengan mereka, jawaban dan komentar yang diberikan seringkali menjadi indikator response yang sangat menunjukkan adanya anxiety. 

Contoh konkritnya, saya sedang duduk santai menunggu antrean di dokter . Tiba-tiba terdengar suara yang jangan jelas , saya tidak mampu menghadapi realitas yang jelek ini. Bagaimana jika dokter saja tidak bisa menolong? Saya harus ngapain? Buat apa saya ke dokter?

Kekhawatiran atau anxiety itu adalah hal yang biasa atau normal bagi setiap orang. Apalagi kita sekarang ini menghadapi dunia dengan berbagai masalahnya baik ekonomi, sekolah, pekerjaan yang tidak ada kepastiannya. Kesulitan itu begitu banyak dan kadang-kadang tidak ada ujung pangkalnya, bahkan tidak menemukan solusi pastinya.

Apakah kekhawatiran ini bisa menimbulkan efek yang berbahaya? 


Memang secara langsung gangguan kecemasan dan serangan panik tidak menyebabkan kematian. Gejala fisik memang menakutkan, seperti detak jantung cepat dan nyeri dada, namun tidak mematikan secara instan. Namun, kecemasan kronis yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan memicu kesehatan.

Jika kecemasan itu menjadi kronis atau berkelanjutan dan terus menerus, dan tidak ditangani, bahkan dibiarkan saja, kondisi ini dapat merusak kualitas hidup, memicu masalah fisik, sakit jantung, pencernaan bahkan risiko bunuh diri.

 Dampak dari kecemasan kronis: 


Dampak jangka panjang: 


 kecemasan kronis dan stres berat dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (jantung). Risiko tidak langsung: Gangguan kecemasan berisiko tinggi jika disertai depresi berat , penggunaan zat atau komorbiditas penyakit fisik, secara tidak langsung dapat meningkatkan kematian dini.

Serangan panik: 


 Serangan panik dapat terasa seperti serangan jantung, namun jarang berakibat fatal atau menyebabkan kematian langsung. Perilaku bunuh diri: Dalam kasus ekstrem dan parah, gangguan kecemasan dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri. 

 Ada beberapa gejala fisik maupun gejala lain dari kecemasan


  •  Pusing 
  • Berkeringat
  • Mual 
  • Merasa gelisah atau resah 
  • Sesak nafas 
  • Diare 
  • Mudah lelah 

 Selain gejala fisik yang dapat langsung dilihat ada hal-hal lain yang terlihat dalam pola pikir seperti:


  •  Percaya bahwa hal terburuk akan terjadi 
  • Kekhawatiran terus menerus 
  • Pola pikir serba atau tidak ada sama sekali 

Generalisasi berlebihan 


 Dalam menentukan apakah penyebab seseorang menjadi cemas, lakukan observasi berikut ini: 

  • Menghindari situasi yang ditakuti 
  • Mencari kepastian 
  • Meragukan diri 
  • Rasa mudah tersinggung dan frustasi dalam situasi yang ditakuti 

Tindakan kompulsif 


Ketahuilah apa yang tidak boleh dilakukan: Apabila kita menemukan orang yang cemas, tindakan yang harus kita hindari: 

Cara kita yang paling baik saat menemukan orang yang cemas bukan berusaha keras menghilangkan atau menghindari penyebab kekhawatiran tersebut.

 Kecemasan biasanya tidak hilang. Justru kecemasan akan tumbuh jika dia terus menghindari situasi sulit. Menghindari situasi sulit bukan berarti dia akan lepas dari kesulitan, tetapi justru sebaliknya Anda menjerumuskan orang tersebut untuk tidak menghadapi ketakutan dan belajar menguasai kecemasan. 

Jika dia terus menghindari, dunia semakin terbatas, kecemasan semakin meningkat. Jangan memaksa konfrontasi 

Apabila orang yang cemas itu belum merasa siap , jangan Anda masuk untuk menyelesaikannya.

 Ada tahap-tahap yang harus dilakukan oleh mereka yang sudah ahli, hantarkan mereka kepada terapis professional sehingga orang yang mengalami kekhawatiran itu dapat melangkah setapak demi setapak melalui bimbingan seseorang yang berpengalaman.

 Gunakan tips kecemasan yang ampuh: 


Berikan validasi 


Jangan pernah mengatakan : “Aku tidak percaya kamu kesal karena hal sekecil ini!” Hal ini berarti meremehkan seseorang. Anda justru harus memberikan dukungan: “Kecemasan kamu memang benar aku akui. Anda harus peka dan memahami apa yang dialami orang lain. 

 Ungkapan keprihatinan 


Setiap melihat atau mendapatkan seseorang kena serangan panic attack, atau serangan panik, Anda hanya bisa minta dia untuk menarik nafas, buang nafas. Saat Anda melihat teman atau keluarga dekat mulai menarik diri dari aktivitas yang dulu disukainya, Anda tak perlu menyembunyikan kekhawatiran Anda. Sebaiknya justru mendekatinya dengan cara hangat dan positif. Mulailah dialog bahwa Anda telah memperhatikan situasi perilaku yang berubah. Contohnya: “Hai saya perhatikan Anda menghindari datang ke pertemuan teman-teman . Bisakah Anda berbagi dengan saya apa yang menyebabkan perubahan itu? APakah mereka membutuhkan bantuan Anda?

 Kapan menghubungi bantuan professional


 Apabila mereka sudah tidak mampu lagi menikmati hidup, sulit untuk bergaul dengan teman-teman dan mulai adanya perubahan fisiknya yang memburuk, maka Anda harus mengingatkan mereka untuk bertemu dengan terapis atau professional.

 Cara Terapi Kognitif


Terapi kognitif Perilaku (CBT) untuk kecemasan fokusnya mengubah pola pikir negatif dan perilaku menghindari yang memicu cemas. Caranya melakukan Terapi Kognitifi (CBT) untuk kecemasan 

1.Identifikasi Pikiran Negatif: Terapis mengenali pola pikir “Katastropik” atau skenario terburuk sering muncul saat cemas. 

2.Restrukturisasi kognitif (tentang pikiran): Anda belajar menantang pikiran negatif dan mengganti dengan perspektif yang lebih realistis dan seimbang.

 3.Menulis jurnal pikiran: Mengatasi emosi, situasi, dan pikiran cemas setiap hari untuk memahami pola pemicu kecemasan 

 4.Teknik relaksasi dan mindfulness: Latihan nafas dalam atau kesadaraan saat ini untuk meredakan gejala fisik kecemasan. 

5.Terapi Paparan (Exposure Therapy): Menghadapi situasi yang ditakuti secara bertahap dalam lingkungan yang aman untuk mengurangi ketakutan 

6.Pekerjaan Rumah: Terapis sering memberikan tugas untuk mempraktikkan keterampilan baru dalam kehidupan sehari-hari. 

 Prosedur sesi terapis 


1.Menentukan tujuan: Bekerja sama dengan terapis untuk menentukan tujuan spesifik. 

2.Menguraikan masalah: Mengenai masalah besar dan kecil yang memicu kecemasan. 

3.Evaluasi Diri: Memantau perilaku dan gejala secara berkala. 

 Kekhawatiran memang bagian hidup, tetapi bukan untuk menguasai hidup kita. Mengenali batasnya, memahami dampaknya dan mengambil langkah kecil untuk mengelolanya adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri. Dan ketika kita melihat orang lain tenggelam dalam kecemasan , kehadiran yang tenang mendengar tanpa menghakimi, seringkali menjadi pertolongan paling sederhana namun paling berarti. Karena pada akhirnya kita semua hanya butuh diingatkan, tidak semua harus ditanggung sendirian.

Resign Setelah Lebaran: Bukan Soal THR, Tapi Soal Waktu yang Tepat

a woman holding resignation letter
A woman Hold resignation letter (Source: Freepik.com)



Lebaran bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tapi juga kembali pada diri sendiri. Di antara hangatnya keluarga dan jeda dari rutinitas, banyak orang justru menemukan keberanian untuk mengambil keputusan besar: pergi dari pekerjaan yang selama ini mereka pertahankan.


Beberapa orang karyawan kontrak maupun karyawan permanen tiba-tiba setelah masuk kerja setelah liburan Lebaran, mengajukan resign. Teman-temannya serta atasannya tentu sangat kaget, bahkan “surprise” tindakan dari para karyawan yang resign setelah Lebaran. 

Mereka langsung berbisik-bisik, mereka yang resign setelah Lebaran itu artinya mereka sudah mengantongi uang THR dan setelah itu mereka pikir itu saatnya yang tepat untuk resign. 

 Apakah THR itu penyebab resign? 


 Jika kita memberanikan bertanya kepada mereka yang resign setelah mendapatkan THR, apa penyebab mereka resign? Jawabannya bukan soal THR nya, tetapi THR itu membuat mereka berani resign. Paska Lebaran bukan fase keputusan resign, tetapi sebaliknya fase eksekusi resign. Dalam hal ini karyawan yang sudah punya pemikiran matang untuk resign, jauh hari sebelum Lebaran mereka sudah memikirkan apakah resign sebelum atau sesudah Lebaran. Jika sebelum Lebaran, pasti mereka tidak mendapatkan THR, sementara setelah Lebaran, artinya mereka sudah mengantongi THRI, lumayan untuk pesangon satu bulan gaji. THR itu bukan jadi titik krusialnya, namun, sebaliknya bahwa THR itu hanya momentum untuk resign saja. 

 Apa dampaknya bagi perusahaan untuk mereka yang resign?


Ketika satu karyawan resign, kita bukan hanya kehilangan satu orang. Tapi kita kehilangan momentum 1 team. Bayangkan, jika dalam satu tim ada seorang atasan, dan tiga orang staff. Salah satu staff itu resign, bagaimana dengan pekerjaan yang ditinggalkan oleh orang yang resign? Apakah akan dikerjakan oleh atasan, atau oleh staf lain sebagai back-up? 

 Pertanyaan ini sering tidak terjawab karena dalam praktiknya, justru pekerjaan yang ditinggalkan itu akan dikerjakan oleh dua orang staff yang ditinggalkan. Lalu dua staff yang mendapatkan tambahan pekerjaan itu, apakah mereka akan menerima kompensasi dalam bentuk benefit seperti tambahan gaji, atau mereka justru dianggap harus menerima kondisi itu sebagai apa adanya. Pembagian kerja dari orang yang resign seringkali jadi hal yang biasa di suatu perusahaan. Ada perusahaan yang anggap tenang saja, nanti dua orang yang masih ada , masih dapat mengerjakan pekerjaan orang lain, padahal desk job orang resign tentunya berbeda satu dengan yang lainnya . 

Jika kebijakan manajemen tidak memuaskan bagi kedua staff yang merasa overload dengan pekerjaan, mereka akan mulai berpikir lagi, apakah ini tandanya perusahaan minta mereka juga resign? Kondisi demikian tentunya tak mudah bagi pekerjaan dalam satu tim, semuanya harus diformulasikan dengan lebih bijak, lebih dipertimbangkan. Jika tidak, hal ini akan berdampak kepada bisnis dari perusahaan. 

 Dalam mengantisipasi rekrutmen seorang karyawan agar ekspektasi antara karyawan dan perusahaan tidak terjadi gap, maka ada dua langkah /strategi. 

Strategi 1: Preventive Action
Strategi 2: Corrective Action 


Strategi 1: Preventive Action 


Perlu pemahaman: Setiap karyawan yang mau resign itu tidak langsung muncul pengin resign, tapi hal itu merupakan akumulasi berbagai masalah yang telah menumpuk selama berbulan-bulan. Namun, karena tidak adanya approach dari atasan, maka dia kelihatannya resign mendadak. Ada 5 top alasan resign:

  1. Tidak ada perkembangan karier
  2. Gaji dan kompensasi
  3. Atasan & lingkungan kerja 
  4. Work-life balance/burnout
  5. Tawaran kerja yang lebih baik. Jadi apa pun alasan dari resign, semuanya dapat dicegah apabila kita punya PEDES (Pre-resign detection System) 

1.Behavour signal: 

  • Mulai withdraw lebih dalam: Karyawan yang mulai tidak begitu aktif dalam mengerjakan tugasnya, atau selalu menghindari tugas baru. 
  • Engagement turun: Selalu menolak jika diajak untuk diskusi kelompok, atau tugas kelompok. 
  • Tidak inisiatif: Bagaikan orang yang pastif , dia selalu diam tanpa memberikan komentar tentang hal-hal baru yang dikemukakan oleh atasannya. 
  • Kerja “sekedar cukup”” Hati dan pikiran pekerja hanya cukup bekerja jam 8.00 dan pulang pukul 17:00 seperti jam kerja kantor. Tidak tertarik diskusi masa depan: Tak merasa tertarik jika ditanyakan tentang masa depan karir yang diinginkan.

 2.Performance Pattern High performance jadi flat:

 Hasil dari performance review menurun tajam, dari high jadi flat. Output ada, tapi effort turun: Meskipun kinerja masih dianggap “average” tapi effort untuk bisa naik level tidak ada samal sekali. Tidak ada “extra mile”: Tidak ada usaha untuk memberikan kontribusi yang lebih untuk perusahaan baik itu dari segi pelayanan maupun kontribusi. 

3.Psychologial Signal 

Sering bilang capek, gak berkembang Mulai sinis/cynical Tidak percaya arah perusahaan 

 4.Market signal 

Update Linkedin Aktif di job portal Ixin/cuti tidak biasa Mulai “rapi banget” (mode interview)

5. Teunre risk 6-12 bulan: 

 Ekspektasi vs realita 2-3 tahun : mulai stagnan Setelah appraisal: buruk 

 Strategi #2 Correctdive action Yang perlu dipahami: 


Resign/turnover adalah hal umum dan hak karyawan Segera jalankan mesin recruitment di perusahaan Recruitmen itu penting karena 

  1. Menentukan performa bisnis 
  2. Menentukan biaya perusahaan 
  3. Menjaga stabilitas tim 

 Untuk itu pastikan bahwa rekrutmen berjalang cepat dan tepat Rekrutmen butuh cepat:

 Rekrutmen butu cepat karena: 


  • Bisnis tidak bisa menunggu: posisi kosong : kehilangan produktivitas Kandidat terbaik cepat diambil kompetitior
  • Top talent biasanya hired dalam 10-14 hari Internal terdampak langsung Kekurangan 1 orang – beban 1 tim

 Rekrutmen butuh tepat: 


  • Salah hire jauh lebih mahal
  • Jika gagal mendapatkan pegawai yang tepat, biayanya mencapai > 30% dari gaji tahunan. 
  • Mempengaruhi performa tim: Apabila satu orang tidak bisa fit, dapat menurunkan kinerja satu tim. 
  • Menentukan keberhasilan jangka panjang: artinya kualitas hire atau rekrutmen harus mengikuti performa dan retensi

Total Tayangan Halaman