![]() |
| Kesehatan Lansia: Cara Tetap Sehat di Usia Lanjut (Canva.com) |
Pagi 23 Agustus 2026, sesi pertama dimulai dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering kita lupakan: menua adalah bagian dari kehidupan.
Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.
Seiring bertambahnya usia, tubuh perlahan mengalami perubahan. Penglihatan mungkin tidak lagi setajam dulu. Otot mulai kehilangan massa dan kekuatannya. Kepadatan tulang berkurang. Paru-paru tidak lagi selentur ketika muda. Kulit pun menjadi lebih kering dan elastisitasnya berkurang.
Namun, apakah bertambahnya usia berarti kita harus berhenti aktif?
Tentu tidak.
Justru di sinilah pentingnya memahami apa yang terjadi pada tubuh kita.
Dalam sesi yang dibawakan oleh Dr. Hilderbrand Hanoch Victor Watupongo, SpPD, K-Ger, FInasim, dijelaskan bahwa di Indonesia seseorang mulai dikategorikan sebagai lansia ketika berusia 60 tahun ke atas.
WHO sendiri membagi usia lanjut menjadi tiga kelompok: 60–74 tahun sebagai lanjut usia, 75–90 tahun sebagai lanjut usia tua, dan di atas 90 tahun sebagai usia sangat tua.
Tetapi menjadi lansia tidak hanya soal angka.
Ada gambaran yang jauh lebih menarik: tetap aktif, sehat, dan bahagia.
Ketika Usia Harapan Hidup Bertambah
Ada kabar baik dari perkembangan kehidupan manusia.
Usia harapan hidup semakin meningkat.
Data yang dipaparkan menunjukkan usia harapan hidup meningkat dari 69,8 tahun pada 2010 menjadi 70,9 tahun pada 2017. Perempuan memiliki usia harapan hidup sekitar 73 tahun, sementara laki-laki sekitar 69 tahun.
Tetapi angka tersebut membawa sebuah pertanyaan penting:
Kalau kita hidup lebih lama, bagaimana kualitas hidup kita selama tahun-tahun tambahan itu?
Sebab panjang umur saja tidak cukup.
Kita tentu ingin usia yang panjang tetap disertai kemampuan untuk bergerak, berpikir, beraktivitas, berkomunikasi dengan orang lain, dan menikmati kehidupan.
Itulah sebabnya kesehatan pada usia lanjut perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Tubuh Berubah, tetapi Kita Bisa Tetap Menjaganya.
Proses menua berlangsung pada berbagai organ tubuh.
Mata mulai mengalami penurunan penglihatan dan lebih mudah silau. Massa otot berkurang sehingga kekuatan tubuh menurun. Tulang semakin kehilangan kepadatannya dan risiko osteoporosis meningkat. Elastisitas paru-paru juga berkurang, sementara kulit menjadi lebih kering dan keriput lebih mudah muncul.
Perubahan tersebut adalah bagian dari proses menua.
Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan.
Seiring bertambahnya usia, berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi juga semakin menjadi perhatian.
Dalam materi ini disebutkan antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, ISPA, diare, pneumonia, dan obesitas.
Karena itu, semakin bertambah usia, semakin penting pula kita mengenali tubuh sendiri.
Jangan menunggu tubuh benar-benar menyerah baru mulai memperhatikannya.
Jangan Biarkan Tubuh Hanya Duduk dan Diam
Salah satu hal yang sering terjadi ketika usia bertambah adalah aktivitas fisik yang semakin berkurang.
Padahal tubuh tetap membutuhkan gerakan.
Dalam materi disampaikan bahwa kurang aktivitas fisik cukup tinggi pada kelompok usia 60–64 tahun dan semakin meningkat pada kelompok usia 65–69 tahun.
Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat.
Ada banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan, seperti tai chi, berjalan kaki, water aerobic, swimming, maupun resistance training.
Intinya bukan berapa berat olahraga yang kita lakukan.
Yang lebih penting adalah tetap bergerak sesuai kemampuan tubuh.
Karena tubuh yang terus digunakan akan memiliki kesempatan untuk tetap berfungsi dengan baik.
Bukan Hanya Otot yang Perlu Dilatih
Ada satu hal yang tidak kalah penting: pikiran.
Demensia atau pikun menjadi salah satu gangguan kognitif yang perlu mendapat perhatian.
Materi ini mencatat bahwa jumlah penderita demensia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1,2 juta pada 2015 menjadi 4 juta pada 2050.
Karena itu, menjaga usia lanjut bukan hanya tentang menjaga kaki agar tetap kuat berjalan.
Kita juga perlu menjaga kemampuan berpikir, memori, penilaian, emosi, dan keterlibatan dengan lingkungan.
Sebab menjadi tua bukan sekadar perubahan fisik.
Ada perubahan dalam kehidupan sosial, psikologis, ekonomi, bahkan lingkungan.
Makan Sedikit, tetapi Jangan Kehilangan Gizi
Ada satu perubahan lain yang mungkin tidak terasa pada awalnya: nafsu makan dapat menurun.
Mengapa?
Fungsi penciuman dan pengecapan dapat menurun. Produksi air liur berubah. Gigi dan gusi mengalami perubahan. Pengosongan kerongkongan dan lambung juga menjadi lebih lambat.
Semua ini dapat membuat keinginan untuk makan berkurang.
Belum lagi faktor lain seperti depresi, kesepian, penyakit kronis, disabilitas, demensia, penggunaan obat-obatan, hingga masalah keuangan.
Karena itu, makan pada usia lanjut bukan sekadar persoalan kenyang.
Yang penting adalah kualitas makanan yang masuk ke tubuh.
Materi menyarankan makanan yang bervariasi, menjaga berat badan, memilih makanan rendah lemak dan kolesterol, memperbanyak serat, sayuran, buah-buahan, serta produk grain, dan menggunakan gula serta garam secukupnya.
Dan bila selera makan menurun, salah satu pendekatannya adalah makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dengan makanan yang padat gizi dan teksturnya lebih mudah dikonsumsi.
Ada Satu Hal yang Sering Diremehkan: Tidur
Kita menghabiskan sekitar sepertiga hidup untuk tidur.
Tidur bukan sekadar berhenti beraktivitas. Dalam materi dijelaskan bahwa tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk melakukan perbaikan dan pertumbuhan sel. Lansia membutuhkan sekitar 5–7 jam tidur.
Karena itu, jangan menganggap tidur sebagai kemewahan.
Tidur yang cukup merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Membuat jadwal tidur teratur, melakukan olahraga ringan, berjemur pagi, melakukan aktivitas yang menenangkan, menghindari rokok dan kafein pada sore hari, serta membatasi minum setelah makan malam merupakan beberapa hal yang disarankan untuk membantu mendapatkan tidur yang lebih baik.
Jangan Tunggu Sakit untuk Memeriksa Diri
Memasuki usia lanjut berarti kita juga perlu lebih sadar melakukan pemeriksaan kesehatan.
Tekanan darah perlu dipantau secara berkala. Berat dan tinggi badan diperiksa. Kesehatan gigi dan mulut diperhatikan. Penglihatan dan pendengaran diperiksa. Lemak darah, gula darah, serta fungsi ginjal dan hati juga perlu mendapat perhatian.
Dan yang menarik, pemeriksaan lansia sebaiknya tidak hanya melihat satu bagian tubuh.
Ada pula penilaian geriatri secara menyeluruh yang mencakup gizi, fungsi, kognitif, dan kondisi mental.
Sebab seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi ternyata mengalami kesulitan dalam aspek lain kehidupannya.
Ternyata Sehat Itu Bukan Hanya Soal Tubuh
Di sinilah konsep geriatri menjadi menarik.
Ketika seorang lansia memiliki dua atau lebih penyakit atau mengalami gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologis, sosial, ekonomi, dan lingkungan, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan melibatkan berbagai bidang.
Jadi, kesehatan lansia bukan hanya urusan dokter dan obat.
Ada gizi.
Ada aktivitas fisik.
Ada kondisi mental.
Ada lingkungan tempat tinggal.
Ada kondisi ekonomi.
Ada spiritualitas.
Dan ada hubungan dengan keluarga serta teman.
Semua saling berhubungan.
Jangan Kehilangan Hubungan dengan Orang Lain
Mungkin ini bagian yang paling manusiawi dari seluruh pembahasan.
Ketika usia bertambah, kita tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat.
Kita juga membutuhkan orang lain.
Materi tentang status fungsional lansia memasukkan dukungan sosial, yaitu keluarga, teman, dan keterlibatan sosial.
Di dalamnya juga terdapat aspek spiritualitas—makna hidup, keyakinan, dan kedamaian batin—serta aspek afektif yang berkaitan dengan kesehatan mental, emosi, dan kesejahteraan.
Mungkin itu sebabnya menjaga kesehatan di usia emas tidak cukup hanya dengan menghitung berapa langkah yang kita lakukan setiap hari.
Kita juga perlu bertanya:
Dengan siapa saya berbicara hari ini?
Apa yang membuat saya merasa dibutuhkan?
Apakah saya masih memiliki kegiatan yang membuat saya bersemangat?
Apa yang membuat hidup saya terasa berarti?
Pada Akhirnya, Menua Adalah Perjalanan
Menua bukan penyakit.
Menua adalah perjalanan yang tidak bisa kita hentikan.
Tubuh akan berubah. Kekuatan mungkin berkurang. Penglihatan tidak setajam dulu. Tidur bisa berubah. Nafsu makan mungkin menurun. Risiko penyakit meningkat.
Tetapi perjalanan itu masih bisa dijalani dengan lebih baik.
Kita bisa tetap bergerak sesuai kemampuan.
Memperhatikan makanan.
Menjaga tidur.
Melakukan pemeriksaan kesehatan.
Memelihara hubungan dengan keluarga dan teman.
Tetap bersosialisasi.
Menjaga pikiran tetap positif.
Dan yang tidak kalah penting, menemukan kembali makna hidup.
Karena mungkin tujuan dari usia emas bukan sekadar hidup lebih lama.
Tetapi bagaimana kita bisa menjalani tahun-tahun yang ada dengan tubuh yang tetap dirawat, pikiran yang tetap digunakan, hati yang tetap terhubung dengan orang lain, dan kehidupan yang masih memiliki makna.
Usia boleh bertambah.
Tetapi semangat untuk hidup tidak harus ikut menua.











