Featured Slider

Kampung Berseri Astra (KBA) Pinang: Strategi Adaptasi dan Mitigasi Komprehensif Menuju Kampung Tangguh Bencana Banjir

Jangan salahkan banjir, 
Banjir datang karena tak ada lagi resapan,
Jangan salahkan banjir, 
Banjir datang karena kita tak merawat alam 


Pada tahun 2021 yang lalu, saya menyusuri jalan-jalan di Kampung Berseri Astra (KBA), RW 06 Pinang, Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang , dekat dengan Gerbang Graha Raya. Mata saya tertuju kepada tumpukan tumpukan pasir yang dibungkus dalam karung terletak di sebelah kanan kiri depan rumah warga. Saya bertanya kepada salah pengurus RT di sana, kenapa ada begitu banyak pasir yang dibungkus? Kami selalu berjaga-jaga agar setiap saat banjir datang, pasir itu dapat digunakan untuk cegah air tidak masuk ke dalam rumah, cukup di jalan saja. 

Penasaran dengan jawaban itu, saya masih ingin melanjutkan pertanyaan. “Apakah Kampung RW 06 ini ngga aman dari banjir?” 

 “Banjir itu bagaikan suatu tradisi bagi kami.  Daerah ini adalah rawan banjir. Posisi tempat tinggal warga RW 06 yang berjumlah 550 rumah dan total penghuni 1800 jiwa lokasinya berada di hilir sungai Angke dan sungai itu tidak pernah dikeruk”, katanya.

Ingatan saya kembali mundur ke belakang, tahun 2020, dimana saat itu adalah 1 Januari 2020 yang seharusnya jadi momen penting dan indah bagi warga untuk merayakan Tahun baru. Namun, hal ini tidak terjadi dengan warga RW 06 Kelurahan Pinang. Banjir kiriman yang datang tepat pada tanggal 1 Januari 2020, menjadi bencana bagi Kampung Pinang atau sering disebut dengan Kampung Berseri Astra (KBA) Pinang.

Derasnya hujan mengakibatkan Kali Angke tidak dapat menampung lagi air dan jebollah tanggul . Air banjir yang tak terbendung itu mengalir ke rumah warga RW 06 Pinang. Dalam waktu singkat banjir merendam rumah-rumah warga dari 13 RT dan 440 kepala keluarga RW 06. Hampir seluruh properti KAB Pinang berupa Rumah PAUD, alat peraga, Gerobak Baca, bibit tanaman, kulkas dan alat penyimpan lele terbawa hanyut oleh air banjir. Keadaan lebih mencekam dan kacau, masing-masing berusaha mengevakuasi dan menyelamatkan diri tanpa ada koordinasi dan tak ada yang mengetahui bagaimana cara aman untuk evakuasi. 

Baru saja mereka bernafas lega, banjir kembali datang tanpa permisi . Pada tanggal 25 Pebruari 2020, air banjir meluap ke warga RW 06 Pinang. Meskipun banjirnya tidak sebesar seperti tanggal 1 Januari, tetapi banjir itu juga mengganggu aktivitas warga dan mereka harus berbenah kembali.

Bagi warga RW 06 Pinang  peristiwa dua banjir itu menjadi momok. Mereka mengetahui bahwa hidupnya selalu tidak tenang, dibayangi oleh ketakutan banjir akan berulang. Apalagi dengan perubahan cuaca atau iklim global ini Bayangkan, seharusnya di bulan Juli-Agustus adalah musim panas, tetapi yang terjadi di Tangerang sering hujan besar sekali.

 Ketika hujan besar datang, rasa was-was menyergap warga. Mereka takut banjir. Warga RW 06 /Pinang tak ingin bencana ini terus menerus terjadi di lingkungan rumah mereka. Mereka juga tak mungkin menunggu bantuan Pemerintah untuk mengadakan perubahan dalam mitigasi bencana. 

 Proklim (Program Kampung Iklim) 


Berita yang menggembirakan, RW 06 Pinang  mendapatkan informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ada program Proklim. Program ini untuk partisipasi warga RW 06 dalam adaptasi perubahan iklim dan mitigasi usaha berkelanjutan secara lokal, penghijauan, pengelolaan sampah. 

Dalam waktu singkat, pengurus RW 06/Pinang membentuk Proklim RW 06, anggotanya terdiri dari empat pilar. Tugas utamanya membuat Standar Operating Procedure (SOP) dan prosedur tanggap darurat. Mereka harus bekerja sama dengan organisasi /lembaga yang berkaitan dengan adaptasi dan mitigasi bencana. Tentunya lembaga yang paling kompeten adalah KLHK dan CSR Astra.

Dari rasa takut jadi Aksi bersama CSR Astra


Dengan program “KBA Aman dan Tangguh”, dibuatlah struktur organisasi Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana (Satgas PDB) RW 06, bekerja sama dengan BPBD Kota Tangerang. Kegiatannya adalah pelatihan, simulasi tanggap darurat, apabila hujan tidak berhenti, akan ada informasi dari pengurus RT, RW untuk evakuasi, lakukan ke tempat yang lebih tinggi. Pertama, prioritas evakuasi untuk orang, kedua untuk kendaraan. Mereka juga harus hemat air bersih dan kran . Menyelamatkan dokumen penting, mematikan listrik dan apabila terjebak banjir, harus segera minta pertolongan kepada tetangga dan pengurus RT. 

Dalam realisasi inovasi, Satgas PDB telah melakukan penggunaan lahan untuk fasilitas vital yang rentan banjir, seperti menambah ketinggian gardu PLN. Desain rumah yang sedang dibangun harus tahan terhadap air, membangun infrastruktur kedap air, melakukan pengaturan kecepatan air melalui pembangunan bendungan, tanggul, vegetasi , rehabilitasi saluran drainase. Selain itu hal yang sangat vital adalah memelihara dan menjaga pompa air. 

Latihan tentang kewaspadaan banjir melalui whatsapp application, titik kumpul, latihan evakuasi lewat papan jalur titik kumpul evakuasi dan persiapan evakuasi. 

Setelah berinovasi, melakukan kegiatan, evaluasi, akhirnya Tim Satgas pun memberanikan diri ikut lomba "Integrasi 4 Pilar Hadapi Bencana" dengan proposal yang telah diimplementasikan . Alhasil, tiap usaha keras pun akan mendapatkan hasilnya, KAB Pinang mendapatkan penghargaan Juara kedua dan telah mendapatkan penghargaan "Pilar Lingkungan Kategori Inovasi Kampung Aman & Tangguh Integrasi 4 Pilar Hadapi Bencana".

 Aksi bersama KLHK


Tidak cukup puas dengan usaha di atas, Satgas PDB Proklim RW 06 pun mengajukan proposal ke Dinas LHK Proposal tentang kegiatan mereka dalam usaha mitigasi banjir dengan tema “Meraih Asa Proklim Madya ke Proklim Utama”. 

1.Pengendalian Banjir

  •  Penampungan air hujan 
Curah hujan yang begitu besar dan tak terserap di dalam tanah, Sungai, akibatkan airnya melimpah. Warga RW 06/Pinang, sesuai dengan prosedurnya, telah membeli 6 unit penampungan air hujan berupa tong berwarna biru. Prinsip kerjanya, dengan talang yang menampung air hujan, menyalurkan airnya ke bawah melalui talang itu dan langsung masuk ke dalam tempat wadah tong plastik itu. Apabila tong plastik sudah penuh dengan air hujan, airnya digunakan untuk pembersihan mobil atau tanaman. Selain itu ada tiga embung tambahan. Embung terbesar di Jl.Mawar Raya.
  •  Biopori 

Air hujan yang begitu besar volumenya dapat disalurkan ke lubang biopori. Cara kerjanya mudah, air tinggal dialirkan ke lubangnya, lalu diberikan sampah sebagai biota.

  • Sumur resapan 

dari usaha untuk menghindari banjir dengan membangun sumur resapan sebanyak 12 titik . Kedua belas titik itu berada di Hutan kota sebanyak 4 titik, jalan Anggrek Cattleya sebanyak 3 titik, Jalan Anggrek Dara sebanyak 3 titik, dan Jalan Melati sebanyak 2 titik. Cara kerjanya air hujan jatuh ke atas atap rumah tidak dialirkan ke selokan tetapi dialirkan dengan gunakan pipa atau saluran air ke dalam sumur, gunanya mengurangi volume air dan mengurangi jumlah limpasan.

  •  Rorak dan penggunaan air hujan

Pembangunan rorak berupa saluran buntu di rumah yang kosong tak berpenghuni, untuk menjebak aliran air di permukaan dan menyalurkannya ke dalam tanah. Fungsinya selain untuk konservasi juga untuk penimbunan bahan organic. Air hujan pun ditampung oleh warga di setiap rumah untuk dipakai lagi untuk mandi, mencuci baju dan lainnya. 

  • Saluran pengelolaan air (SPA) 

Saluran air pengelolaan air sepanjang 2,6 km dibangun untuk memperlancar arus air dengan lebih cepat dan ke luar . 

2.Aksi Mitigasi

 Warga RW 06 /Pinang telah menetapkan untuk mengurangi Gas Rumah kaca dan kurangi pemanasan global dengan empat cara yaitu: 
- Pemisahan dan pengolahan sampah 
- Penggunaan pupuk organic 
- Menggunakan Energi Baru Terbarukan/Hemat Energi 
- Menambah vegetasi/penghijauan 

  •  Pemisahan dan pengolahan sampah 

Sampah ada di setiap rumah warga termasuk warga RW 06/Pinang. Untuk mengolah sampah, mengurangi limbah serta mendaur ulang jadi tantangan bagi warga. Dulunya mereka belum paham Konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle). 

 Dalam edukasinya oleh Remaja Bank Sampah Astra, mengajarkan kepada warga bagaimana sampah dipilah sesuai dengan jenisnya, organik dan anorganik. 

 Untuk sampah basah atau organik (sayur-sayuran, buah-buahan) , mereka memasukkan ke dalam tong dan membiarkannya selama beberapa hari sehingga berubah menjadi kompos. Kompos itu dapat mereka gunakan untuk pupuk tanaman yang berada di pekarangan rumah, atau rumah pembibitan. 

 Untuk sampah kering atau anorganik, mereka akan mendaur ulang galon air mineral jadi pot bunga dan tutup emer plastic untuk jadi hiasan. Kertas dan karton digunakan untuk daur ulang membungkus atau menyerahkan ke Bank Sampah. Semua kegiatan dari pemilahan hingga pengolahan sampah dilaporkan ke aplikasi Bank Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang. Hasil Tabungan ini dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga.

  • Menggunakan pupuk organik 

Dari beberapa pusat tanaman dan benih, Warga RW 06/Pinang selalu gunakan pupuk organik hasil olahan dari para warga sendiri. Selain hemat, juga mereka dapat menghasilkan sayur dan buah-buahan yang berkualitas tinggi. Pupuk juga digunakan untuk tempat pembibitan Kebun Cempaka. 

  • Menggunakan energi terbarukan

Hemat energi adalah salah satu usaha untuk selalu mematikan lampu atau listrik yang tidak dipakai. Selain itu mereka juga punya cara jitu dalam penggunaan solar cell untuk lampu penerangan jalan . 9 unit lampu jalan sudah gunakan energi solar cell. 

  • Menambah vegetasi atau tanaman

Saya kagum dengan kegiatan warga dalam penghijauan di pekarangan rumahnya. Meskipun halaman rumah untuk menanam tidak besar, tapi usaha untuk menghijaukan lingkungan jadi asri, dengan banyaknya pot-pot bunga dan tanaman hijau di pot. Aneka sayuran ditanam di Kebun Cempaka. Untuk tanaman lebih besar ada di hutan Kota Pinang seluas 3000 m2 menjadi tempat yang teduh sekaligus tempat mempertahankan tutupan vegetasi. 

3.Sarana Pengendalian Banjir 


Mengendalikan banjir tak selamanya mudah, tapi harus punya cara yang taktis dan tepat. Warga RW 06/Pinang telah mempunya strategi untuk pengendaliannya yaitu:

  •  Sistem Polder/Pompa air 

Persiapan untuk banjir dengan 9 unit pompa air.. Para petugasnya adalah warga sendiri. Ada rincian tugas dan kewajiban dalam persiapan pompa air itu termasuk cek alat-alatnya yang harus dalam kondisi baik saat akan digunakan. 

  • Tanggul banjir Kali Angke

 Bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, mulai melakukan persiapan pelaksanaan normalisasi Kawasan Daerah Aliran Sungai Kali Angke.Meminimalisir risiko banjir ketika hujan tinggi dan deras. 

Usaha keras warga RW 06 /Pinang untuk ikut lomba Proklim di KLHK membuahkan hasil dengan menjadi Pemenang Utama Sertifikat Proklim Utama Nasional . Usaha selanjutnya adalah persiapan pengajuan Sertifikat Proklim Lestari (Sertifikat tertinggi)ke Dinas LH Tangerang.

 Hidup dalam lingkungan rawan banjir telah mengubah tekad untuk aksi mitigasi dan adaptasi sehingga berhasil mampu menghadapinya. Moto warga RW 06/Griya “Banjir bukan lawan, tetapi bencana harus diantisipasi dan dimitigasi”.

#kabarbaiksatuindonesia


Perempuan Jadi Garda Terdepan di Ruang Digital

Komdigi, perempuan jadi garda terdepan
freepik.com



Perempuan muda itu bernama Susi (bukan nama sebenarnya). Susi adalah istri keponakanku yang punya latar belakang pendidikan sebagai guru SD Kristen yang terkenal kedisiplinannya. 

 Sebagai seorang guru yang aktif dan dedikatif dia juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kedua putranya , sebut saja namanya Andri (bukan nama sebenarnya) dan Krisna (bukan nama sebenarnya). 

 Andri usia empat tahun, sedangkan Krisna delapan tahun. Kedua anak lelakinya memang punya karakter yang berbeda, Andri pendiam, tetapi suka sekali dengan dunia teknologi, sedangkan Krisna sangat aktif dan selalu senang dunia olahraga dan tertarik dengan dunia seni. Ketika masih kecil kedua anak ini sering ditinggalkan oleh ibunya karena kesibukan tugas mengajar dari pagi hingga sore hari. 

Saat ditinggal oleh kedua orangtuanya, mereka berdua hanya ditemani oleh seorang pembantu saja. Sejak kecil kedua anak sudah dibekali dengan gadget karena alasan untuk komunikasi yang efektif sehingga kedua anak itu dapat dimonitor dimana dan sedang apa. 

 Sayangnya, Susi yang sibuk mengajar itu tak punya kesadaran tentang pentingnya literasi digital. Dia berpikir praktis bahwa gadget itu sangat efisien untuk komunikasi dan tak pernah terpikir apa akibatnya jika digunakan tanpa literasi digital. 

 Masalah kesehatan mata 


 Suatu hari selesai mengajar, Susi kaget mendapatkan laporan dari pembantu bahwa Andri matanya berair dan kabur, tidak jelas melihat orang atau benda-benda di sekitarnya.

 Selain itu Andri menderita gangguan punggung leher. Pembantu menyerahkan sepucuk surat “cinta” dari guru yang ditujukan kepada Susi selaku orangtua. Begitu surat cinta dibuka, Susi kaget sekali membacanya karena guru mengatakan bahwa Andri tidak dapat mengerjakan tugas PR dengan baik , akhir-akhir ini kurang memahami pelajaran saat di sekolah, dan prestasi belajarnya menurun. Perilakunya juga sering kasar dan sering cepat marah dan emosional terhadap temannya. Begitu selesai membaca, Susi menahan nafas dalam-dalam dan akhirnya dia mencoba menenangkan diri. 

Setelah itu dia mulai mengetok kamar Andri. Dijumpainya Andri sedang bermain gadget , dan terlihatlah bahwa permainan game itu sangat menyita waktu dan membuatnya kecanduan. Susi dengan suara yang sedikit berwibawa, “Andri, apa yang sedang kamu kerjakan?”. Dengan tenang Andri mengatakan, “Aku sedang bermain game!”. Lalu Susi bertanya lanjut: “Berapa lama kamu main game?” “Nggak lama kok, hanya 3-4 jam saja!”, katanya Santai. Begitu mendengar kata-kata tidak lama, Susi segera memotong dengan tegas, dengarkan mamah yah, mulai saat ini, penggunaan gadget hanya untuk komunikasi dengan mamah apabila ada masalah dengan penjemputan dan pengantaran sekolah. Saat kamu di rumah, tidak boleh lagi menggunakan gadget. Hanya pada hari Sabtu dan Minggu , kamu gunakan boleh 2 -3 jam saja. 

 Andri mau protes dan tidak suka dengan statemen itu. Dalam hati Andri, dia tak setuju dengan pembatasan penggunaan gadget karena dia melihat semua temannya juga sama seperti dirinya. Namun, Susi dengan tegas mengatakan bahwa gadget itu hanya alat bantu komunikasi dan untuk belajar yang positif , nanti setelah kamu kelas dua SD kamu boleh belajar coding. Sekarang kamu harus berjanji kepada mamah tidak akan melakukan main game di luar hari Sabtu dan minggu lagi . Dengan lirih, Andri menjawab: “OK, aku berjanji mah!”. 

 Belajar literasi digital 


Menyadari kesalahan yang agak terlambat, Susi mulai mengambil tindakan untuk belajar soal literasi digital. Selama ini dia menganggap mengontrol kegiatan anak hanya melalui pembantunya saja. Susi berharap bahwa bukan hanya dia yang belajar literasi digital tetapi anak juga perlu edukasi literasi digital melalui dirinya. 


Akhirnya Susi berhasil mendaftar sebuah lokakarya tentang literasi digital berjudul “Literasi Digital untuk Berdayakan Perempuan”. 

 Dalam lokakarya yang singkat itu dia melihat banyak perempuan terutama ibu-ibu usia muda tidak peduli dengan literasi digital. Lokakarya itu untuk mengantisipasi kerentanan atau ancaman di dunia maya. 

 Mereka hanya mengenal internet untuk digunakan di ponsel untuk berselancar mencari sumber informasi di berbagai media sosial. Banyaknya dan banjirnya informasi di media sosial itu tak selalu benar bahkan sering kali negatif dan jauh dari kebenaran atau yang disebut dengan hoax. Ada juga perempuan yang menganggap bahwa literasi digital hanya diperuntukkan lelaki saja. Padahal, ketimpangan gender itu tak berlaku bagi literasi digital. 

 Ada empat pilar literasi digital yang perlu dikembangkan yaitu Keterampilan Digital (Digital skills) Budaya Digital (Digital Culture), Etika Digital (Digital Ethics) dan Keamanan Digital (Digital Safety).

 1.Keterampilan Digital (Digital Skills) 


Kemampuan setiap individu untuk menggunakan perangkat dan aplikasi digital, termasuk kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menciptakan informasi menggunakan teknologi digital, melakukan belanja online dan menggunakan media sosial. 

 2.Budaya Digital (Digital Culture) 


Pentingnya memahami dan menerapkan bagaimana caranya berkomunikasi di ruang digital. Ini mencakup bagaimana berperilaku, berkomunikasi , dan berinteraksi secara positif dan bertanggung jawab. 

 3.Etika Digital (Digital Ethics) 


Kesadaran akan pentingnya berperilaku etis dalam menggunakan teknologi digital. Hal ini mencakup prinsip-prinsip seperti tidak menyebarkan berita bohong, tidak melakukan perundungan dunia maya, serta menghormati privasi orang lain. 

 4.Keamanan Digital (Digital Safety) 


Kemampuan untuk melindungi diri dari ancaman dan risiko yang mungkin terjadi di dunia digital, seperti penipuan online, phishing, malware, dan pelanggaran data pribadi. Ini mencakup pemahaman cara menjaga keamanan akun, perangkat dan informasi pribadi. 

 Literasi Digital untuk Anak Dini 


Setelah paham literasi digital, Susi tak berhenti belajar. Susi selalu melengkapi dirinya bukan sekedar literasi digital untuk diri sendiri tapi juga untuk kedua putranya yang sedang tumbuh kembang menjadi anak remaja. 

Menurut para ahli, banyak anak yang kecanduan main gadget karena terlalu lama screen time. Prinsipnya anak usia dini 2-5 tahun hanya diperbolehkan main gadget satu jam saja.

 Untuk menghindari kecanduan, Google meluncurkan program “Tangkas Berinternet: Jaga Keamanan dan Privasi Keluarga”. 

 Langkah “Tangkas Berinternet” adalah sebagai berikut:


 1.Harus Cerdas : Artinya cerdas dalam memilih komunikasi mana yang baik , mana yang buruk bagi posting mereka. Ibu akan memandu komunikasi mana yang boleh diungkapkan dan mana yang tidak boleh. Tujuannya agar anak lebih paham menggunakan internet. 

 2.Bersikap Cermat: Artinya anak diajarkan agar tidak cepat tertipu dan selalu bersikap hati-hati dalam menjalankan pertemanan di dunia maya. Tugas dari ibu adalah ikut memperhatikan siapa teman anaknya, termasuk yang tidak dikenalnya. Ibu juga mendampingi anak memberikan arahan bahwa dunia online tidak sesuai dengan dunia nyata. Mereka harus waspada dunia maya. 

 3.Tangguh Berinternet: Artinya anak dapat menjaga privasi mereka dan informasi yang berharga tetap dijaga. Jangan menyampaikan akun dan password mereka kepada orang lain yang bertujuan tidak baik. Tujuannya agar akun mereka tidak mudah diretas. 

 4.Jadilah Bijak: Selalu mengingatkan kepada anak bahwa menggunakan internet itu harus bijak karena rekam jejak selalu terekam dan tidak bisa dihapus sama sekali. Sebagai orang tua pun kita memberikan pendampingan dan contoh. 

 5. Berani berinternet: Selalu berkomunikasi terbuka dengan anak dan ajak berdiskusi. Mereka tidak boleh takut bertanya tentang apa yang sedang dicarinya di internet. 

Prinsip dasar saat mendampingi anak dalam mengunggah aplikasi atau media online: 


1.Orang tua selalu melek literasi digital waktu berselancar di dunia maya. 

2.Orang tua selalu pegang kendali akses atau akun anak untuk internet. Memegang kendali dengan cara menggunakan family link atau safe search untuk memantau aktivitasnya sehingga tidak masuk ke dalam dampak negatif.

3.Mengunduh aplikasi ramah anak, misalnya Youtube Kids, tetapi orang tua harus tetap kendali agar tetap aman dan terkendali. 

 Susi sekarang sudah lebih siap menghadapi gempuran media sosial dan segala bentuk aplikasi untuk anak-anaknya. Dia bahkan telah punya cara jitu untuk mengarahkan Andri yang suka belajar Coding, untuk pembuatan game . Andri berhasil jadi juara dalam pembuatan coding suatu game. Internet bagaikan pisau bermata dua, Susi sebagai orang tua bisa memilih yang menguntungkan saja. Berinternet secara “smart” dan jadikan internet untuk mendapatkan keuntungan bukan kerugian baik bagi pribadi maupun bagi keluarga.
 
komdigi



Sumber referensi: 
  • Perempuan Jadi Garda Depan Perlindungan Anak di Ruang Digital: https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/perempuan-jadi-garda-depan-perlindungan-anak-di-ruang-digital 
  • Kartini Digital : Perempuan Indonesia Harus Jadi Penggerak Inovasi:https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/kartini-digital-perempuan-indonesia-harus-jadi-penggerak-inovasi

Surga dari Matahari Pagi Bromo


Bromo
Bromo, dok-pri



Empat puluh tahun yang lalu, Aku bermimpi untuk menyaksikan surga dari matahari pagi Bromo. Ketika orang yang sudah berjanji mau mengantarkan diriku ternyata mengkansel janji itu. Mimpi itu tak pernah padam setelah sekian puluh tahun.

Realisasi mimpi itu telah kutepati pada tanggal 5 Agustus yang lalu. Sebagai seorang senior, rasa keraguan mampukah melewati medan yang tak mudah , mampukah aku tak tidur dan harus berjalan kaki (aku punya kelemahan tak kuat jika tak cukup tidur malam). 

Lintasan keraguan itu terjawab sudah dengan tekad yang cukup tinggi. Berbagai rintangan seperti tidak ikut rombongan yang dari Malang karena pasti kondisi fisik dengan para anak muda beda sekali. 

Jadi aku berangkat dengan keluarga kecil hari Senin tanggal 4 Agustus dari Malang ke Lereng Bromo Hotel siang harinya. Hal ini merupakan antisipasi ngantuk para supir yang aku baca sering kecebur jurang di Bromo. Hingga dekat hotel, kabut tebal sudah menggelayut, wah repot ini. Aku mohon kepada supir untuk berhati-hati karena jalan meskipun sudah bagus tapi lika liku dan menanjak serta sempit membuat hati ciut.

Akhirnya jam 14:45 , kami tiba di Lereng Bromo Hotel. Disambut dengan baik oleh resepsionis, lalu kami diberikan kesempatan untuk “tea time” dengan kudapan ringan. Tak terasa kami pengin istirahat puku 22:00, tapi mata belum kunjung mengantuk. Akhirnya baru pukul 12:30 mulai tidur. Namun, bunyi alarm 2:30 membangunkan diriku. Bergegas kami menyiapkan diri untuk naik jeep menuju perbukitan . 

 Awalnya aku janjian pukul 4 dengan pengemudi Jeep. Namun, pengemudi bilang ngga bisa bu, antriannya panjang, nanti kita tidak dapat tempat! Pengemudi jeep wisata itu ternyata seorang agak tua . Tapi terlihat gesit melewati jeep yang sudah sliweran ditengah mala mini. Sesudah bayar tiket di Taman Nasional Bromo, saya mulai sadar begitu banyaknya jeep dan motor yang semuanya sudah berbaris memasuki area Bromo. 

Saya pikir hari Senin bulan Agustus akan lebih sepi karena bukan hari libur, tapi kenyataan berbeda. Jeep sudah dapat tempat parkir di depan warung. Kami diminta jalan kaki, katanya tidak jauh tapi cukup tinggi naiknya. 

 Tidak lama kemudian ada beberapa tukang ojek yang datang menawari untuk naik ojek ke tempat lain yang view jauh lebih bagus. Sayang, harganya mahal, tiap orang minta Rp.150,000 untuk pulang pergi. Jadi akhirnya saya naik tangga itu dengan perlahan-lahan, mungkin ada 100 tangga. 

 Selagi semua orang masih nongkrong di tempat warung, kami sudah pilih tempat yang strategis untuk foto. Menunggu hampir dua setengah jam, mulailah matahari dengan sinarnya berwarna kuning keemas an muncul di ufuk timur. Saya mengabadikannya. Juga saya sangat kagum dengan Gunung Batok yang diselimuti dengan awan memutih bagaikan salju. BErdecak kagum saya melihat keindahan alam nan bagus. 

Begitu selesai melihat, sekitar jam 6.00 kami turun dari Bukit Penanjakan. Kami istirahat sebentar di warung minum the hangat dengan roti pengisi perut. Melanjutkan perjalanan menuju savana , jalan yang sangat ambrul adul, dikocok-kocok. Perut sangat mules jika tak diisi . Kabut gelap menggelayut, hebatnya pengemudi sangat handal dalam mengarungi jalan . Sesampai di bukit Savana, saya turun dan ternyata kabut gelap pekat masih terus menggelayut. Suami minta dilanjutkan saja. Lalu, kami menuju kawah Bromo. 

Taman Edelweiss



Sesampai di kawah ini ternyata kondisi juga sama, masih gelap gulita oleh kabut. Kami meneruskan saja perjalanan menuju ke Taman Edelweiss. Sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga, namun pemandangan di kanan kiri dengan pepohonan tinggi dan udara dingin sangat indah dan biasanya taman ini digunakan untuk tempat nongkrong karena ada tempat café. Selesai dari Taman Edelweiss, kami langsung ke Hotel Lereng Bromo. Setelah check-out kami kembali ke Malang.



Beras Premium, Kualitas Oplosan, Bahayanya bagi Kesehatan

Beras Premium, Kualitas Oplosan
Sesame-seed-dark-background (Sumber: Freepik.com)


Beras jadi makanan pokok rakyat seluruh Indonesia. Serasa belum makan jika belum makan nasi. Makan enak itu yang penting nasinya, nggak penting untuk lauknya. Siapa yang setuju? Mungkin ada yang kurang setuju karena makan nasi kualitas apa saja yang penting justru lauknya.

Bagi saya pribadi makan nasi meskipun jumlahnya sedikit hanya sekitar tiga sendok makan,, tapi kualitasnya harus cukup bagus atau sering disebut dengan premium. Sayangnya, kualitas beras premium itu sekarang sedang heboh .

 Ditemukan oleh Bapak Andi Amran, Menteri Pertanian (ini sudah lama terjadi kenapa baru sekarang dibongkar?), bahwa ada 212 merek beras premium yang dioplos. 

 Apa reaksiku? Sebenarnya antara kaget dan tidak kaget. Kaget karena jumlah merek yang dioplos kok banyak banget, saya tidak menyangkanya. Saya tidak kaget karena saya sudah sering mendengar dan mengalami sendiri bahwa beras beli mahal ternyata banyak masalah yang dihadapi.

Beras Oplosan


Barangkali ada yang masih bingung dengan istilah oplosan. Oplosan itu pengertiannya beras kualitas premium dicampur dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). 

 Pengertian lainnya adalah harga beras premium tapi kualitasnya sudah hasil oplosan. Kita membayar harga beras premium tapi kualitasnya bukan premium alias oplos (dicampur antara kualitas premium dengan non premium). 

 Loh siapa sebenarnya yang melakukan oplosan? Kementrian Pertanian , Bapak Andi Amran, Menteri PErtanian melakukan investigasi praktik oplosan, dan ditemukan ada 212 merek beras yang melanggar dan diserahkan ke Polri dan Kejaksaan Agung. Para penyidik akan memeriksa 25 pemilik beras kemasan 5 kg. 

 Polisi telah mengadakan press conference hari ini. Dalam press conference dikatakan bahwa polisi telah mengusut beras oplosan ke pasar tradisional dan modern dengan mengambil sampel beras premium dan medium. Hasil laboratorium penguji besar pengujian standar instrumen paska pertanian telah menemukan 5 merek terbukti tidak memenuhi standar mutu (saya ngga jelas standar mutu yang mana?). Hasil penyelidikan selanjutnya terhadap 3 produsen atas 5 merek, di Gudang FS di Jakarta Timur, FS di Subang, Gudang PT PM di Serang, Banten dan pasar induk Cipinang.

 Apa kerugian para warga yang membeli beras oplosan?


Yang pertama, tentunya kerugian materiil. Belinya sudah mahal , bahkan melebihi Harga eceran tertinggi , contohnya di Jakarta beras premium HET sekitar Rp.12.500 hingga Rp.15.000, ternyata di pasaran beras premium dijual seharga Rp.16.000 ke atas. Mahal benar yach . Sudah mahal tapi kualitas nya dicampur dengan beras yang tidak baik. 

Yang kedua tentunya kerugian dampak kesehatan. Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc , seorang pakar UGM menyatakan bahwa beras oplosan itu yang dicampur dengan bahan kimia seperti pemutih, pewarna dan bahan plastik sintetis, akan membahayakan kesehatan konsumen. Bahan kimia yang ditemukan pada beras oplosan itu dipakai untuk menyamarkan kualitas beras yang rendah sehingga tampak putih dan menarik. Motif utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. 

Namun, bahaya yang ditimbulkan dari bahan kimia seperti klorin, yang bersifat karsinogenik ini jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan memicu kanker dan berpotensi merusak organ vital seperti hati, ganjil. Lebih ngeri lagi jika konsumsi rutin dalam jangka panjang akan membentuk trihalometan yang diklasifikasikan zat karsinogenik oleh IARC (International Agency for Research on Cancer).. Jadi organ-organ kita harus bekerja keras untuk menyaring zat asing dan dalam jangka panjang akibatnya dapat terjadi kerusakan permanen. 

Dengan mencuci beras itu sangat efektif untuk menghilangkan kontaminan berbahaya? Ternyata tidak , hanya sebagian kecil zat kimia yang larut air bisa berkurang melalui pencucian, sementara senyawa lain seperti formalin tetap bertahan meskipun dimasak dalam suhu tinggi. Jadi kita sebagai konsumen tidak boleh tertipu oleh tampilan luar atau fisik luar dari beras premium, misalnya beras berwarna terlalu putih, aroma kimia dan hasil test air dan api dan jadi dapat indikasi. Misalnya kita rendam dalam air, beras akan mengambang, air berubah warna dan mengeluarkan bau plastic. Jika hal ini terjadi, kita harus segera mencurigai bahwa beras ini mengandung bahan yang bahaya. 

 Tips hindari beras oplosan

  •  Hindari beras tanpa label atau sumber yang tidak jelas.Pilih produk label resmi SNI, dan izin edar BPOM.
  • Periksa tampilan fisik beras sebelum beli. Lihat warna, ukuran butir dan bau secara saksama.
  • Cuci beras sebelum dimasak, amati apakah muncul benda asing atau air cucian yang tidak wajar.
  • Simpan beras maksimal enam bulan di tempat sejuk dan kering untuk jaga kualitasnya. 
  • Tidak tergiur harga murah. Harga jauh dibawah pasaran bisa menjadi tanda kualitas yang dipertanyakan. 

 Sebagai konsumen, terutama ibu-ibu yang sering beli beras premium, diharapkan lebih teliti  dan bijak membeli.

Pensiun Hidup Aman, Nyaman dan Finansial Freedom, Ikuti Tips dan Langkahnya

Frinansial Freedom
Finansial Freedom/Freepik.com


Sepasang suami istri di usia senjanya tinggal di daerah cukup elit , di Bandung. Kondisi rumahnya sangat tidak terawat, berantakan, ada banyak alat-alat rumah tangga yang dibiarkan berdebu, tidak dibersihkan maupun ditata . Keadaan rumah berantakan ini disebabkan Ibu Lauren, usia 76 tahun itu tak punya waktu mengurus rumah karena dia harus mengurus suaminya yang terkena stroke, dan anaknya yang autis.

Di usia senjanya, ibu Lauren terpaksa harus mencari uang sendiri untuk bisa mencukupi kebutuhan biaya hidup dirinya, suami serta anaknya. Dia menjajakan nasi goreng dengan hasil cukup Rp.200.000 untuk semua kebutuhan hidup termasuk obat-obatan suami dan anaknya.

 Sungguh tragis bukan melihat kondisi lansia yang dulu di usia muda pernah mengalami kejayaan hidup dengan glamor , serba kecukupan, tapi justru kini di usia lansia, hidupnya penuh sengsara . 

Kisah lain adalah mereka para lansia yang juga merasa “terbuang” ketika anak-anaknya (ada yang memiliki dua anak, ada juga yang memiliki empat anak), menyerahkan ibunya ke Griya Lansia. Sebuah panti seharusnya khusus untuk mereka yang secara finansial tak punya kemampuan untuk merawat dirinya sebagai lansia.  Dari segi ibu lansia, kenapa kita tidak menjadi manusia yang mandiri secara finansial.

Hikmah dari kisah kehidupan di atas adalah manusia ketika saat masa produktif , masih berkecukupan di masa mudanya, lupa untuk menyisihkan dana untuk passive income setelah pensiun. Akibatnya para lansia itu tak punya finansial freedom. 

 Data dari BPS menunjukkan bahwa lansia yang punya Tabungan atau passive income setelah pensiun hanya 6% dari total tenaga kerja formal/informal .

 Apa itu finansial freedom?


 Kita semua akan menghadapi fase kehidupan dari lahir, bayi, dewasa, bekerja, tua dan meninggal. Pada akhir fase sebelum meninggal, orang akan menjadi tua. Tua itu tak bisa dihindari, kecuali mereka yang meninggal di usia muda. Di usia tua itu, kita juga masih punya kebutuhan hidup.

Sayangnya,ketika anda masih muda dan produktif, punya dana yang cukup untuk ditabung untuk hari pensiun, tapi kesadaran itu selalu datangnya terlambat. 

Apabila kita punya passive income sejak muda, kita tidak akan terlantar di usia senior. Finansial freedom itu menjadi penting karena kita tidak akan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan kita di saat senior, cukup uang untuk menutup pengeluaran yang besar di saat tua karena kesehatan yang menurun dan kita juga ingin tetap punya gaya hidup dan kualitas hidup yang memadai. Hal ini hanya dapat dikover apabila kita punya passive income yang sudah dipersiapkan sejak dini. 

Berikut ini  adalah langkah-langkah finansial freedom  yang perlu dilakukan 


1.Meningkatkan literasi keuangan 


Literasi keuangan atau pengetahuan tentang berbagai macam produk keuangan perlu dipahami. Untuk mengetahuinya banyak sekali sumber-sumber yang dapat diakses, baik itu buku maupun dari sumber softcopy dari berbagai Lembaga keuangan.

 2.Membuat anggaran yang realistis 


Usia pensiun di tiap kantor pasti berbeda, ada yang usia 55, 58, 65 dan sebagainya. Namun, prinsipnya kita buat anggaran berapa lama kita akan pensiun dan rentang berapa lama kita masih produktivitas. Jika kita baru bisa menabung di usia 34 tahun, sedangkan usia pensiun 55 tahun, artinya kesempatan untuk menabung hanya tinggal 21 tahun saja. Sementara itu, kita perlu menghitung dulu berapa kebutuhan dari usia pensiun dengan lamanya kita hidup, misalnya usia harapan hidup untuk perempuan adalah 80 tahun, artinya kebutuhan hidup setelah pensiun adalah 25 tahun (80 tahun – 55 tahun). 

Jika kebutuhan hidup di usia 55 tahun adalah 10 juta maka Anda butuh 10x 12 x 25 tahun = Rp.3 milyar Dengan uang Rp.3 milyar ini artinya Anda harus menabung sekitar Rp.11 juta per bulan. Apabila gaji Anda belum memungkinkan untuk menabung sebesar itu, Anda harus realistis seoptimalnya Anda untuk menabung sesuai dengan kemampuan .

 3.Hindari Hutang yang tak diinginkan


 Di saat jelang pensiun, selalu hindari hutang yang tidak produktif. Misalnya beli mobil, motor, peralatan hobi yang mahal. Hutang itu akan membebani Anda dalam alokasi nabung untuk pensiun. 

 4.Emergency fund 


Setiap pekerjaan selalu ada risiko kerjanya. Diharapkan Anda selain nabung untuk pensiun, juga punya emergency funds yang besarnya sekitar 3x gaji terakhir. 

5.Investasi 


Dari dana yang terkumpul pada poin kedua itu, kamu harus mulai dengan menginvestasikannya ke dalam produk-produk pasar saham, obligasi, atau reksadana, emas dan sebagainya. Dari jumlah investasi yang sedikit, selalu ditambah atau top up sehingga mencapai total jumlah portofolionya hingga Rp.3 milyar. 

 Perlu diingat bahwa inestasi ini untuk kepentingan pensiun, nach pilihlah inestasi yang risikonya kecil supaya dana yang sudah terkumpul dan sebagai portofolio itu tak habis dikurangi kerugian yang ditimbulkan.

 6.Diversifikasi pencapatan 


Ketika Anda sudah sampai di titik pensiun, dan menggantung diri dari imbal hasil invstasi untuk pendapatan, sebaiknya cari investasi yang memasng sesuai dengan profil. Namun, juga harus diingat bahwa jangan meletakkan investasi hanya di satu produk investasi saja, tapi dimasukkan ke beberapa produk yang memang Anda kuasai. 

 Mengapa finansial freedom sangat penting? 


1.Kualitas hidup di masa pensiun


 Anda pasti menginginkan bahwa kualitas hidup di masa pensiun jadi rendah, misalnya harus kekurangan gizi karena tidak mampu beli makanan yang baik dan bernutrisi. Kualitas hidup yang terjaga akan merawat kesehatan kita . Hal ini juga akan mengurangi risiko sakit berat atau sakit kritis. 

2.Hindari ketergantungan kepada keluarga 


Seperti kedua di atas, para ibu-ibu yang merasa “dibuang” oleh anaknya yang tak mau merawat anaknya. Mereka itu bukan tidak mampu, tetapi tidak mau merawat orang tua yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang. 

 Bagi kita sebagai lansia, suatu pembelajaran yang sangat baik untuk tidak tergantung finansial kepada anak-anak. Meskipun fisik sudah tak mungkin bekerja di kantor, di rumah, tetapi ada passive income kita yang memampukan hidup kita tidak sia-sia. 

3.Mengatasi inflasi


 Setiap tahun harga barang pokok, kebutuhan hidup pasti naik. Kenaikan harga kebutuhan itu disebut dengan inflasi. Ada yang mengatakan inflasi normalnya sekitar 2%. Nach jika kita masih hidup 25 tahun lagi, artinya ada sekitar 50% dari kebutuhan hidup yang harus kita siapkan. 

 Memperhitungkan inflasi atas kebutuhan itu, ada investasi yang melindungi aset kita, misalnya dengan beli emas . 

 4.Memberi ketenangan dan keamanan finansial


 Bayangkan apabila Anda sudah pensiun, tidak ada uang pensiun dari perusahaan maupun simpanan dana pensiun untuk melanjutkan hidup. Apa yang terjadi? Kita akan gentar, takut, bingung dan berpikir gamang. Sebaliknya jika kita sudah memeprsiapkan diri dengan dana pensiun yang mencukupi kebutuhan hidup sesuai dengan gaya hidup sederhana, maka kita akan merasa nyaman, tenang karena ada keuangan yang menjaminnya. 

 Metode 4% Rule


Sebagai Strategi Dana Pensiun William Bengan, seorang penasihat keuangan , pada tahun 1994 telah memperkenalkan suatu strategi bagaimana membangun portofolio ivnestasi saat pensiun dan tidak banyak risiko dan kehilangan dalam jangka panjang. 

Metode ini dapat digunakan apabila kamu telah mencapai target pensiunmu, misalnya 5 milyar di usia 55 tahun. Pada tahun pertama masa pensiun, kamu hanya bisa mencarikan 4% dari total portofolio investasi, misalnya 200 juta untuk kebutuhan dalam jangka waktu satu tahun.

 Namun, pada tahun berikutnya angka 4% itu akan hilang relevansinya karena dampak dari faktor inflasi. Misalnya inflasi yang terjadi sebesar 2% maka penarikan penarikannya akan menjadi Rp.200 juta x 102% = Rp.204 juta. 

Hal yang sering dilupakan orang dan kurang kesadarannya bahwa ada faktor-faktor inflasi dan faktor ekonomi lainnya yang membuat metode 4% ini tidak bisa berlaku lagi. Selalu mengadakan review atau analisa untuk penyesuaian strategi agar perubahan signifikan dalam kondisi pasar atau kebutuhan keuanganmu.

Total Tayangan Halaman