Featured Slider

Dari Meja Kerja ke Ikatan Hati: Teman Kantor yang Jadi Keluarga

Kantor lamaku adalah sebuah perbankan asing. Aku masih ingat sekali saat rekrutmen, ada beberapa sainganku yang cukup berat. Mereka itu semuanya lulusan dari luar negeri. Tinggal aku sendiri yang lulusan lokal. Begitu juga ketika diwawancari, rasanya percaya diriku hampir hilang karena belum apa-apa aku sudah merasa tak mampu bersaing dengan mereka yang punya kemampuan berbicara dan berkomunikasi lancar dalam bahasa Inggris.

Sementara diriku, aku harus bicara dalam bahasa Inggris dengan tersendat-sendat. Akhirnya, aku merasakan “blessing” saat aku diterima bukan sebagai kandidat utama tetapi kandidat back-up . Dalam suasana yang asing ketika menginjakkan kaki pertama kali, aku tidak bisa membayangkan bahwa ruang tempat kerjaku itu yang terkecil di antara mereka yang punya meja dan tempat computer tersendiri. Aku memang merasa kaku ditengah pergaulan teman-teman yang kelihatannya sudah begitu terbiasa dengan suasana terbuka , selalu kompak sebagai anggota dari suatu unit kerja. 

 Kekakuanku ini mulai pudar dan mencair ketika salah satu manajer memberikan “job description” kerja tentang tugas kerjaku . Divisi kerja dibagi per industry, kebetulan di tempatku kerja termasuk divisi Chemical dan Petrochemical. Para manajer yang jadi ujung tombak dari marketing adalah mereka yang selalu mencari klien baru dan mencari projek kredit baru . Tugasku adalah membantu para manajer yang harus membuat laporan dan segala proposal ke atasan untuk pemberikan kredit. Aku mulai familiar dengan semua orang yang ada dalam divisiku.

 Namun, aku belum kenal teman-teman selevel di divisi lain. Aku berpikir bagaimana berkenalan lintas divisi karena belum ada seorang pun yang memperkenalkanku. Kesempatan itu datang ketika ada teman-teman yang makan siang di suatu ruangan aku mulai mengenal satu persatu teman-temanku. Setiap siang makan bersama merupakan cerita yang unik, ada yang dengan mudahnya berkenalan dan langsung jadi teman dekat. 

 Sementara diriku, aku belum bisa memiliki teman dekat seorang pun. Aku tipe introvert yang selalu mencari orang yang benar-benar punya value dan nilai-nilai yang sama sehingga dalam percakapan seperti “klik”. Tidak bekerja dalam satu divisi tapi selalu dekat di hati Setelah berkenalan hampir dua tahun, aku mulai kenal satu persatu mengenal lebih dalam siapa teman-teman di lingkungan kerja .

 Cara pendekatan yang paling ampuh yang aku lakukan adalah mencari orang yang memang memiliki persamaan value , aku tak peduli latar belakang, tak peduli apakah dia lebih senior , tak peduli apakah dia sombong di luarnya. Masing-masing temanku punya kepribadian yang perlu dipelajari. Posisi kami selevel, jadi apabila ada seseorang yang cuti, kami harus saling memback up.

 Contohnya teman saya Tantri (bukan nama sebenarnya) cuti, maka saya akan back up pekerjaannya. Demikian juga jika saya cuti, Tantri akan back up saya mengerjakan pekerjaan saya. Dari pekerjaan back-up pun saya mengenal siapa teman yang baik. Ada teman yang sangat “sempurna”, jika dia cuti, saya mengerjakan pekerjaannya, harus diserahkan semua berkas pekerjaan seperti yang diinginkannya. Dia akan ngomel berat apabila hasilnya tak sesuai dengan yang diinginkna.

 Anehnya, ada seorang teman yang justru saya tak mengenal dekat secara “heart to heart”, tapi saya melihat dengan mata hati saya, dia ini teman sejati. Sayangnya ketika saya baru saja kenal teman say aini, sekitar setahun, dia harus “resign” dari pekerjaan karena akan menjadi permanent residence di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan berikutnya, saya pikir relasi kami sebagai teman akan berakhir dengan kepindahannya. Ternyata, begitu dia pindah di sana, dari hari ke hari, kami makin dekat.  Apa pun yang sedang kami alami, baik saat bahagia maupun senang, sakit , kami selalu sharing bersama.  Rasanya tak ada teman yang begitu dekat secara "heart to heart" yang mau mendengar keluhan , kesedihan yang sedang menimpa kami .   Begitu dekatnya sehingga kami sering merasakan bonding dan attachement itu bagaikan lebih dari saudara sendiri.

Puncaknya ketika ibu dari teman kami yang merupakan tetangga saya, meninggal dunia.  Tentu teman kami tidak bisa pulang dalam pulang dalam waktu singkat.  Dia minta tolong agar mengurus semua acara dari acara penghiburan hingga kremasi.  Meskipun saya tak mengurus sendiri, tetapi minta bantuan orang lain, tetapi rasa kehilangan juga dengan ibu teman yang telah dianggap sesperti ibu sendiri.

Perjalanan panjang masih kami alami bersama-sama, dalam suka maupun duka. Tahun 2024 temanku ini pulang ke Indonesia, meskipun singkat berjumpa dengan saya karena dia harus membagi waktu dengan keluarganya, saya sangat senang dan bahagia.  
Itulah yang disebut teman serasa keluarga.

Marak Penculikan Anak: Mengapa Pengawasan Orang Tua Kini Lebih Penting dari Sebelumnya?

Marak Penculikan Anak
father-spending-time-with-his-daughter-outdoors-father-s-day
Di tengah meningkatnya kasus penculikan anak, apakah kita sudah cukup menjaga buah hati kita? Setiap detik, ancaman semakin nyata, namun sering kali kita lengah. Saat anak berinteraksi dengan dunia luar, tidak hanya gadget dan lingkungan yang harus kita perhatikan—tapi juga bagaimana kita memberi pengawasan yang tepat. Artikel ini akan mengungkapkan mengapa peran orang tua kini lebih krusial dan memberikan tips konkret untuk melindungi anak dari bahaya yang mengintai. Jangan tunggu sampai terlambat—kenali langkah-langkah perlindungan yang harus diambil sekarang!


 Sebagai orang tua yang menyayangi dan mengasihi anaknya, tentu kita akan terkejut , shock dan panik apabila kita menemukan anak-anak kita tiba-tiba hilang dan sudah berpindah tangan ke orang lain. Berpindah tangan ke orang lain atau diculik. 

Penculikan terhadap anak-anak balita atau bawah lima tahun ini makin marak di tahun 2025 di Indonesia. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, ada 91 kasus penculikan anak di Indonesia dengan 180 korban sejak 2022.

 Peristiwa penculikan anak popular adalah Bilqis yang berasal dari Makasar dan berpindah tempat tiga kali hingga ditemukan di pedalaman Jambi. Dalam penuturan oleh ayah Bilqis bernama, Dwi Nurmas, saat hari minggu pagi 2 November ingin melatih ibu-ibu mengajar tenis di taman Pakui Sayang, Makasar. Sayangnya, tidak jadi, sehingga Dwi berlatih bersama temannya, sementara anaknya minta izin untuk bermain di taman sebelahnya.

Pemandangan dari lapangan tenis ke taman memang terbuka dan mudah melihatnya. Tapi dalam sekejab ketika Dwi Nurmas lengah, Bilqis sudah hilang dari pemandangan. Pencarian berbuntut panjang mulai dari minta bantuan keapda “orang pintar” sampai melapor ke Polisi. Dari pihak kepolisian dinyatakan bahwa Bliqis telah dijual kepada pihak lain oleh penculik. Penculik menawarkan anak lewat Facebook, diberikan kepada seorang warga di Sukoharjo dengan harga Rp.3 juta. Dari Sukoharjo, Bilquis dibawa ke Jambi untuk ditawarkan kepada pasangan yang belum dikaruniai anak, dengan dijual sebesar Rp.30 juta. Ternyata, Bilquis berpindah tangan dijual keapda Suku Anak Dalam yang ingin mengadopsi dijual seharga Rp.80 juta. 

 Motivasi dari maraknya penculikan anak itu sering dikaitkan dengna faktor ekonomi dan psikologis. Alasan umum dari faktor ekonomi:

Eksploitasi ekonomi 


Tujuan menculik untuk mengeksploitasi anak untuk membantu kegiatan mengemis atau mengamen. Dengan menggunakan anak kecil sebagai alat untuk meminta, hasilnya dan keuntungan lebih besar. 

Perdagangan anak


Penculik yang masuk dalam jaringan internasional untuk komoditas organ, maka penculik dengan mudahnya anak-anak yang diculik dan dijual organnya lewat media sosial , bahkan ada yang dijual untuk kegiatan eksploitasi seksual 

Adopsi illegal 


Suami istri yang belum juga dikaruniai anak, ingin mendapatkan anak secara illegal. Mereka nekad menculik anak dan ingin membesarkan anak sendiri atau juga menjual kepada orang lain setelah dianggap besar. 

Uang tebusan 


Ini sering terjadi dan justru dilakukan oleh mereka yang terdesak ekonominya , untuk mendapatkan uang tebusan dari orang tua. Terutama apabila anak itu berasal dari keluarga berada. 

Dendam


Ketika ada yang merasa dendam kepada keluarga korban, maka anak dijadikan korban penculikan untuk pelampiasan amarah dan sakit hatinya. 

Penculikan oleh orang tua kandung


 Ketika orang tua sedang dalam kasus perceraian, hak asuh anak misalnya jatuh kepada ibunya, ada kasus “parental Abduction” dimana ayah kandungnya yang tak punya hak asuh, memaksa untuk merebut anaknya dari ibunya . Perebutan anak dalam proses perceraian ini juga menjadi kasus yang sering terjadi dan membuat anak itu menjadi bingung dan kurang cinta dari kedua orang tuanya karena yang dia lihat hanya pertengkaran saja. 

 Tips agar anak aman terhadap penculikan 


Sebagai orang tua, anak-anak selalu dibawah pengawasan, jangan pernah tinggalkan anak sendiri pergi tanpa pengawasan. Meskipun anak hanya pergi ke luar di depan rumah, pengawasan pun harus tetap dilakukan. Anak juga harus dididik sejak dini untuk melindungi dirinya sendiri terhadap kejahatan di sekitarnya. Orang tua harus membekali anak dengan tips untuk jaga diri terhadap orang yang tidak kenal. 

  • 1.Ajari anak aturan “tanya ibu atau ayah dulu”


 Ajarkan bahwa semua orang asing tidak boleh mendekatinya. Apabila mereka didekati orang asing, dan mengajak pergi. Mereka harus segera menjawab: “tanya ibu atau ayah”. Tidak boleh seorang pun , biarpun orang yang sudah dikenalnya untuk menawarkan permen, bujukan dibelikan mainan atau apa pun. Mereka harus patuh dan minta izin kepada pengasuh atau orang tua. 

  •  2.Ajari anak untuk menolak


 Ajari anak untuk menolak pemberian dari orang asing. Pemberian berupa hadiah, dari orang asing tidak diperbolehkan dan harus ditolak. Mereka harus berani menolak dan konsisten untuk tidak menerima pemberian. 

  • 3.Mengajarkan cara hadapi penculikan


Upaya penculikan Dalam kondisi genting atau luput dari perhatian orang tua, anak harus diajarkan untuk berteriak dan menjatuhkan barang-barang sekeras mungkin dan berlari ke orang yang dikenalnya . Minta pertolongan kepada polisi, guru atau orang yang dikenalnya.

  • 4.Pergi ke tempat aman 


ada orang asing yang membututi anak, segera menyingkir atau berlari ke tempat yang aman seperti tempat polisi atau petugas keamanan atau seorang ibu lainnya. Juga jika lewati jalan sepi, sunyi, harus bersama dengan orang tua , tidak boleh sendirian.

  •  5.Ajari keterampilan bela diri dasar


 Setiap anak baik perempuan atau lelaki dibeirkan keterampilan dasar seperti latihan taekwondo, karate, wushu. Latihan ini sangat bermanfaat bagi mereka untuk melindungi diri , meningkatkan kekuatan dan daya tubuh anak.

Perjalanan Buku Antologi “Memeluk Diriku yang Lalu”

Memeluk Diriku yang Lalu
sumber:  Meta State Publishing




Menulis adalah bagian aktivitas pikiran, jiwa saya yang tak pernah lepas dari keseharian saya. Jenis artikel yang saya tuliskan adalah artikel popular dalam keseharian yang seperti pendidikan, bullying, keuangan, mandiri secara finansial.

 Nach tulisanku sering juga bertema sesuatu yang lagi tren seperti Amazon PHK 14.000 karyawan, . Menulis juga menjadi kebiasaan saya bagaikan gaya hidup, misalnya setiap hari perlu makan.  Aku tak punya idealisme yang kuat, misalnya pengin tulisan naik jadi Headline, atau viral. 

 Sekarang ini, aku menulis bukan untuk mencari panggung yang menjadi personal brand. Kesadaran saya, bahwa tulisan itu ternyata punya jalannya sendiri. Ada yang menyukai gaya penulisan saya , tetapi ada juga yang belum menyukainya. Semua terserah kepada pembaca yang punya hak untuk memilih tulisan sesuai dengan seleranya.

 Nah kita kembali kepada topik awal, di akhir Oktober 2025, biasanya kegiatan menulis sudah mulai “slow motion”, tak menggebu seperti awal hingga pertengahan tahun. Walaupun demikian, ada kejutan dari pihak Meta State Publishing (Meta). Meta adalah penerbit sekaligus fasilitator untuk pembuatan buku berbagai jenis seperti solo, antologi, biografi dan lainnya. 

Temanya adalahyang saya sukai, yaitu tema bidang psikologi “Memeluk Diriku yang Lalu”. Langsung aku menanggapinya dengan positif, aku ikut sebagai salah satu penulisnya. Meskipun aku suka banget dengan temanya, bukan berarti, menulisku jadi lancar tanpa hambatan. Aku perlu riset, baca berbagai artikel psikologi yang berkaitan dengan tema yang diminta. 

 Sebagai pembukaan dari pertemuan untuk menulis buku Antologi ini, koordinator sekaligus general manager Kak Saskia telah menyusun sedemikian baik schedule .

 Schedule mulai dari opening dan training dan pengenalan dulu siapa saja mentor, dan siapa Meta. Lalu dijelaskan dengan gamblang, teknik penulisan antologi itu . Bukan buku fiksi, tetapi non fiksi yang dapat berupa cerita, cerpen, self development. 

Dalam beberapa hari setelah opening, diharapkan sudah menyerahkan kerangka tulisan. Kerangka tulisan sudah dikumpulkan dan diedit oleh editor. Langkah selanjutnya, kami diminta untuk segera menulis naskah awal. 

 Diberikan waktu cukup singkat. Untung saya sudah riset dan sudah menuliskan setengah dari artikelnya. Melanjutkan saja artikel yang baru selesai setengahnya. Penulisan kali ini , ada getaran perasaan dan trauma-trauma yang sering saya jumpai di beberapa orang yang belum saja terselesaikan. 

Lalu saya tuangkan dengan cepat supaya apa yang jadi insight atau ide itu tak hilang. Setelah selesai, semua naskah awal akan dikoreksi oleh editor. Kami akan berjumpa dalam beberapa hari mendatang dengan editor. 

Apabila tulisan yang telah dikoreksi itu sudah dibicarakan, maka penulis diharuskan untuk mengoreksinya. Tenggat waktu cukup singkat , tetapi cukuplah bagi kita yang memang sudah disiplin dengan tenggat waktu.

Selanjutnya tentu semua hasil tulisan akan dibuatkan layout dalam sebuah buku. Ini adalah bagian pekerjaan dari percetakan, bahkan mereka harus mengajukan ISBN yang waktunya cukup lama sekitar 2-3 minggu, tergantung dari Perpustakaan Nasional sebagai penerbit ISBN. 

Diantara waktu pencetakan itu, kami penulis diharuskan membeli dua buku, juga mempromosikan kepada teman, saudara untuk membeli bukunya juga. Ada komitmen kami untuk bisa menyelesaikan buku ini hingga tuntas. 

Diharapkan akhir Desember, buku antologi "Memeluk Diriku yang Lalu" sudah terbit dan dinikmati setiap pembaca yang ingin dan sadar pentingnya melepaskan masa lalu dan memeluk kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Sehelai Kain Tembe Nggoli: Perubahan Kecil Mengubah Kampung Ntobo

Kain Tembe Ngoli Mengubah Kampung Ntobo
Yuyun kenakan kain tenun Bima.  Sumber: FB : Yuyun Kaen Tenun Bima



Suara alat tenun yang dulunya terdengar iramanya setiap kali penenun bekerja, kini hanya terdengar lirih. Jeritan tangis para penenun yang kehilangan gairah. Setiap benang yang dijalin bukan lagi untuk merajut harapan , tapi untuk bertahan hidup. Wajah-wajah yang dulu penuh senyum, kini memancarkan kelelahan dan keputusasaan. Hasil tenun tak lagi dihargai, proses yang dulu dihormati, kini terasa sia-sia, harapan pun perlahan memudar.

Kampung Ntobo sebuah desa kecil dan lokasinya nun jauh dari kota Bima dan kurang strategis karena lokasinya terpencil, terdapat sebuah tradisi yang sudah berusia ratusan tahun, yaitu menenun Tembe Nggoli, kain khas yang menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

Namun, bagi sebagian penenun di desa Ntobo, keterampilan tenun itu bagaikan belenggu hidup . Dengan proses menenun yang panjang mulai dari penggulungan benang, pemisahan benang, memasukkan benang ke sisir tenun, pembentangan, penggulungan benang yang sudah terpasang , pembuatan motif, sampai terakhir proses menenu dengan alat tenun tradisional. Lamanya proses pembuatan dapat dua minggu, sebulan bahkan ada yang sampai setahun tergantung dari kesulitannya. Namun, tragisnya, hasil jerih payah menenun yang panjang itu tak sepadan dengan apa yang dikerjakannya. Hasil tenunan itu diserahkan dan dihargai murah oleh para tengkulak. 

Para penenun itu terpaksa terjerat para tengkulak karena mereka tak punya modal untuk beli benang, dan alat-alat menenun, tak mampu akses untuk meminjam modal ke bank. Mereka harus datang ke tengkulak, pinjam uang dengan bunga tinggi. Mengembalikan pinjaman dengan hasil tenun yang dihargai sangat murah.

Para penenun di desa Ntobo itu sudah mati langkah dan menyurutkan langkah dan semangat para penenun untuk melanjutkan bertenun . Di tengah kesulitan ini, muncul sosok penenun bernama ibu bernama Yuyun Ahdiyanti. Dia seorang ibu dengan tiga orang anak yang tak hanya berjuang untuk keluarganya tetapi juga ingin mengubah nasib para penenun di desanya. 

 Keterbatasan yang memantik perubahan 


Yuyun Ahdiyanti, seorang lulusan SMA yang tinggal di desa Ntobo bersama suami dan ketiga anaknya merasa prihatin melihat nasib para penenun di sekitarnya. Sebagai penenun, dia juga merasakan bagaimana para penenun itu sudah bekerja keras mengolah benang dan menenun kain yang indah, namun, tidak mendapatkan imbalan sebanding . Keterbatasan modal dan ketergantungan pada tengkulak membuat para penenun terperangkap dalam siklus kemiskinan. Bahkan, keahlian mereka dalam membuat tenun Tembe Nggoli yang bernilai tinggi , warisan nenek moyang serasa tidak bernilai , tak cukup membawa perubahan dalam hidup mereka. 

Namun, Yuyun tak menyerah begitu saja. Dia merasa terpanggil untuk berbuat kecil . Meskipun langkah sekecil apa pun. Dengan tekad yang kuat, ia mulai memasarkan tenunan keluarganya di akun pribadi Facebook. Pada awalnya, dia tak banyak mengharapkan dari langkah kecil ini. Namun, kenyataan sangat berbeda. Sambutan dari para pembeli di luar desa, di luar pulau, jauh melampaui ekspektasi Yuyun. Hasil tenunan yang selama ini dipasarkan melalui tengkulak, kini dapat dijual langsung kepada konsumen dengan harga yang lebih baik. Yuyun pun mulai memasarkan hasil penenun di Ntobo, yang dulunya sulit dijangkau oleh para pembeli, sekarang jauh lebih mudah dengan pemasaran online. Pemasaran lebih lancar dan harganya pun juga lebih tinggi. 

Mengubah takdir dengan langkah kecil 


Ketika pemasaran online di  akunmedia sosial berhasil meningkatkan wisatawan yang datang dan beli produk tenun Tembe Nggoli, dia tak berhenti di situ. Yuyun memberdayakan para penenun dan memasarkan hasilnya melalui online maupun galeri yang disebut dengan “Dina”. Lokasinya di samping rumahnya, luas ruangan 2 x 6 meter. Di Galeri “Dina”, Yuyun memajang hasil tenun khas dari daerah Bima dengan koleksi Sambolo Bima (penutup kepala atau syal khas Bima), kain tenun Bima lainnya. 


Tempat inilah jadi bakal cikal untuk mengembangkan Ntobo sebagai “Kampung Tenun” di Bima, sehingga semua koleksi di galerinya fokus pada hasil tenun dari komunitas tersebut. "Sehelai kain bisa mengubah kehidupan," ungkap Yuyun dengan penuh keyakinan. "Kita bisa membantu penghasilan suami, menambah penghasilan keluarga, sekaligus melestarikan budaya yang sudah diwariskan turun-temurun." 

Selain itu Yuyun juga mengadakan workshop bagi para penenun muda untuk belajar cara menenun dengan teknik dalam pewarnaan maupun teknik produksi . Dengan menggandeng kolaborasi dengan universitas lokal dalam pengembangan warna alami berbasis nanopartikel yang cepat dan ramah lingkungan. 

Langkah kecil yang dia mulai membawa dampak besar, tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk desa Ntobo secara keseluruhan. Penenun-penenun lain mulai menyadari bahwa mereka juga bisa memperoleh keuntungan lebih baik dengan cara yang lebih mandiri. Yuyun bukan hanya sekadar menenun; dia menenun masa depan yang lebih baik untuk desanya. 

Perubahan yang berdampak luas 


Dengan semangat juang yang tak kenal lelah, Yuyun terus menginspirasi banyak orang, baik di desanya maupun di luar sana. Keberhasilan Yuyun tak hanya diukur dari peningkatan pendapatan keluarganya, tetapi juga dari dampak positif yang dia bawa ke desa Ntobo.

  •  Kemandirian ekonomi perempuan penenun

Sekarang, para penenun di desa Ntobo mampu mandiri secara finansial. Hasil dari tenunan dihargai sesuai dengan jenis kesulitan memproduksi kain tenun itu. Mereka bisa bangga dengan jernih payah dan uang yang dihasilkan dapat digunakan untuk membantu suami, punya penghasilan sendiri dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

  •  Pelestari budaya 


Sebagai pelestari budaya tenun yang diwariskan oleh nenek moyang, awalnya penenun muda tidak berminat untuk meneruskan pekerjaan sebagai penenun, mereka lebih suka bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKI). Namun, ketika mereka melihat adanya perubahan penghargaan hasil karya penenun, mereka mulai beralih bekerja sebagai penenun. Bayangkan, apabila tak ada generasi penenun muda, maka warisan budaya tenun Tembe Nggoli akan hilang, punah. 

  •  Identitas kampung 


Bagi wisatawan asing atau lokal yang datang ke Kampung Tenun Ntobo sudah sangat mudah karena kampung ini sudah dikenal sebagai kampung penenun di Bima. Meskipun lokasi tak strategis tapi semua warga Bima mengetahui dan dapat mengantarkan tamu-tamu wisatawan domestik dan asing untuk berkunjung ke Galeri “Dina”. Keindahan, keanggunan dan kekayaan tenun Tembe Nggoli dipamerkan dalam display Galeri “Dina”. 

  •  Berdayakan warga sekitar


 Bukan hanya penenun saja yang mampu berdaya, tetapi beberapa warga yang bekerja sebagai tukang ojek, makanan, warung membuat ekonomi warga sekitar bergeliat. Mereka bekerja sebagai pendukung kegiatan dari wisata tenun di Kampung Ntobo. 

Pengakuan Nasional


Perjuangan dan kegigihan wirausaha sosial Yuyun Ahdiyanti telah membuahkan hasil penghargaan yang sangat tinggi. Pada Oktober 2024, Yuyun telah berhasil menjadi pemenang Semangat Astra Terpadu untuk SATU Indonesia Award ke 15 bidang kewirausahaan yang digelar sejak 2010 dan diikuti oleh 657 peserta seluruh Indonesia. 

Yuyun telah berkontribusi dalam pemberdayaan penenun di Bima, mengangkat derajat para penenun, dari langkah kecilnya mampu membangkitkan geliat usaha tenun yang hampir punah, menjadi warisan budaya Indonesia dan identitas kampung.

 Ina Tanaya
 #anugerahpewartaastra2025 #kabarbaiksatuindonesia 

 Sumber referensi: 

  • Dari Keterbatasan Menuju Keberdayaan: Kisah Lahirnya UKM Dina di Kampung Ntobo: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/10/26/yuyun-ahdiyanti-dari-ntobo-untuk-nusantara-menenun-harapan-lewat-kain-tradisi-bima Yuyun Ahdiyanti,

  • Srikandi Pejuang Kampung Kain Tenun Bima Nusa Tenggara Barat: https://www.kompasiana.com/marthauli/672e01ca34777c4ff12dcf13/yuyun-ahdiyanti-srikandi-pejuang-kampung-kain-tenun-bima-nusa-tenggara-barat

Pegiat Literasi itu Telah Berpulang: Menyalakan Lilin di Gelapnya Literasi

Pegiat literasi itu telah berpulang
Yulianto pendiri RUmah Baca Bintang (muhammad Idris, Kompas)


Saat banyak yang menyerah pada rendahnya minat baca, Yulianto justru menyalakan api kecil perubahan

Jasad lelaki itu terbujur kaku, tubuhnya kurus dalam senyum kemenangan . Dia telah berpulang ke rahmatullah pada tanggal 19 September 2024 jam 15.00 

Lelaki muda berusia 30 tahun itu dikenal bernama Yulianto, tinggal di rumah yang sangat sederhana di Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan. Rumah terbuat dari kayu yang sudah lubang-lubang, dan lantainya dari tanah. Luas ruang baca sekitar 2 meter x 3 meter. Dia tak punya rak buku, semua buku disimpan di kota buku bekas tempat telur. 

Dengan kondisi yang memprihatinkan, Yulianto tak pernah surut memperhatikan kondisi orang lain. Dia melihat banyak anak-anak hingga dewasa tak punya pendidikan tinggi, sulit untuk mendapatkan buku bacaan. Belum ada perpustakaan di desa itu. Mereka harus pergi ke kota yang jaraknya sekitar 45 menit untuk membeli buku. Biaya pergi ke kota jauh lebih besar dari harga buku yang akan dibeli. 

Kegelisahan hatinya melihat literasi baca yang rendah di Indonesia dan desanya . Menurut PISA 2022, tingkat literasi baca di Indonesia berada di peringkat ke 71 dari 81 negara. Bahkan Unesco mengatakan Indonesia punya tingkat terendah , 1 dari 1000 orang yang membaca. Sebagai seorang sarjana dia paham literasi baca ini harus memperbaiki. Dia ingin mengentaskan rendahnya literasi itu dengan mengedepankan kegiatan literasi baca dimulai dari tempat dia dilahirkan. 

Meskipun saat itu Yulianto sudah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai pustakawan, dia rela meninggalkan pekerjaannya demi memperkenalkan buku lewat rumah baca dan dongeng. Padahal orang tuanya, Musimin dan Soni Hindiarti melarangnya. Alasannya, jadi PNS sudah punya gaji tetap, sedangkan jadi relawan atau pendongeng tak bergaji . Dia mengenalkan buku-buku yang dimilikinya secara terbatas dengan membangun rumah baca di rumahnya. Ada papan kecil terpampang nama “Rumah Baca Bintang”. 

Begitu masuk , luas ruangan yang cukup sempit, tersusunlah buku-buku di rak yang terbuat kardus atau limbah kayu. Susunan buku-buku bacaan untuk anak-anak, usia 0-12 tahun sangat rapi. Rumah Baca Bintang terbuka setiap hari tanpa Batasan, dengan fasilitas terbatas bagi anak-anak (tidak ada kursi, semua duduk bersila di bawah), tanpa ada ruang AC , ruang sebelumnya lebih kecil dari sekarang ini. 

 Mimpi Rumah Baca Bintang 


Desa tempat Yulianto dilahirkan memang bukan tempat ideal bagi anak-anak untuk bisa memiliki buku dengan mudah karena alasan pertama pekerjaan orangtua anak-anak itu adalah petani, pekerja informal. Dengan penghasilan yang rendah dan tidak menentu, anak tidak bisa membeli buku dengan harga yang mahal di kota. Biaya untuk ke kota mahal ditambah dengan harga buku. Minat baca anak juga rendah . 

Lalu, Yulianto melihat hambatan itu, tanpa mengenal lelah, dia berjuang untuk mengumpulkan buku-buku yang dibelinya saat dia bekerja sebagai pustakawan sekolah. Ketika dia bekerja, mendapat gaji sedikit, tapi tetap menyisihkan dari gaji untuk beli buku. 

Buku-buku itulah yang dijadikan modal oleh Yulianto untuk mengisi Rumah Baca. Disebutkan Bintang sebagai simbol yang menerangi dunia literasi anak yang masih gelap agar bisa menjadi terang . Yulianto sangat percaya bahwa hanya dengan bukulah anak-anak di desanya bisa melihat dunia dengan wawasan yang luas. 

Tapi keinginan untuk mengajak anak-anak itu untuk datang ke Rumah Baca tidak mudah. Anak-anak tidak tertarik dengan buku. Buku adalah suatu benda mati yang tak punya daya tarik atau magnet bagi anak-anak. Dengan kreativitas tinggi, Yulianto memutar otak bagaimana anak-anak itu tertarik datang ke Rumah Baca Bintang bukan sekedar ingin tahu saja. Tetapi Yulianto berharap anak-anak datang ke Rumah Baca Bintang karena tertarik membaca buku. 

 Untuk menarik perhatian anak-anak, Yulianto ditemani oleh sebuah boneka cerita yang dinamakan “Nana”. Boneka cerita itu menjadi magnet bagi anak-anak ketika Yulianto minta anak-anak baca buku, selesai baca, Yulianto dengan boneka yang berbicara , “apa yang kamu baca?”. Jika salah satu anak berani bicara, misalnya Wati. Wati diajak berkenalan dengan boneka Nana. Boneka Nana akan menanyakan apa isi buku yang kamu baca. Setelah itu mulailah, boneka Nana bercerita misalnya tentang kejujuran . Anak-anak terpesona karena ada cerita yang dibawakan melalui boneka Nana. 

 Begitulah teknik storytelling yang mampu menarik anak-anak giat membaca buku. Yulianto membuat minat baca anak melalui dongeng yang disampaikannya dengan sangat menarik . 

Perjuangan berat Penyebar Literasi


Di tahun 2018 Yulianto merasakan adanya penglihatan yang menurutnya sebagai hal yang menakjubkan dan menakutkan. Dilihatnya sebuah pintu gerbang yang terang dan jalan lurus menuju lorong cahaya kegelapan tak berujung. Seolah-olah Yulianto merasa akan meninggal dalam waktu singkat. 

Di tahun 2019, Yulianto divonis oleh dokter bahwa tubuhnya diserang penyakit HIV. Dia harus minum obat sepanjang hidupnya. 

Belum selesai fisiknya yang lemah, Yulianto diuji saat akan mengirimkan buku, hujan deras dan banjir. Buku-buku itu sudah dibungkus plastik, tetapi tetap saja basah. Juga dia pernah menerjang lautan banjir dan motornya mogok. 

Pada saat yang bersamaan, dia mengalami kecelakaan membuat dia tak mampu berjalan karena tempurung lutut dan tulang lengan retak. Bahkan tak berselang lama, terjadilah musibah banjir yang menghanyutkan seluruh buku-buku di Rumah Baca Bintang. Namun, Yulianto tak pernah patah semangat, dia yakin dan percaya bahwa semua itu harus dilakukan dengan ikhlas, demikian kata Yulianto, Sarjana Ilmu Perpustakaan dari Universitas Terbuka Purwodadi. 

Dengan niat yang terus diperbaharui dan penuh kesabaran, dia mulai membenahi buku-buku dan mengisi Rumah Baca. 

 Berkembangnya Rumah Baca


Ketika Yulianto sering diundang oleh beberapa Lembaga untuk sosialisasi literasi baca, penghasilan yang didapatnya selalu digunakan untuk memperbaiki Taman Baca dan kebutuhan literasi baca. Lantainya tak lagi tanah tetapi sudah disemen. Juga dinding sudah di tembok dengan bata. Di tahun 2015 jumlah koleksi buku telah bertambah menjadi 100 buku, semua buku telah dibuatkan rak buku, luas tempat baca juga diperlebar hingga 6 x 12 meter .

Yulianto juga menggunakan dana pengembangan untuk meningkatkan beberapa Rumah Baca seperti Rumah Baca Bintang dengan 4 simpul Pustaka di Grobogan. Keempat simpul itu adalah Rumah Baca Mulya Utama di Desa Dempel Kecamatan karangrayung, Taman Baca Lurung Ceria di Desa Welahan Kecamatan Karangrayung, Padepokan Ayom Ayem di Desa Godan Kecamatan Tawangharjo dan Teras Baca Rejosari Kecamatan Grobogan. 

Berkat ketekunannya untuk pengembangan Rumah Baca Bintang, segala aktivitas literasi itu dilirik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia. Tawaran agar Yulianto bergabung ke Pustaka Bergerak dan diminta membuat boneka ikon. Disitulah lahir dua boneka Pustaka yang bernama Nana dan Mumun. Boneka Pustaka Nana berasal dari nama panggilan akrab Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Kedua boneka itu selalu mendampingi Yulianto dalam setiap kegiatan literasi dan disebutlah inisiator Boneka Pustaka Bergerak.

Jaringan dunia literasi makin meluas dan makin dikenal. Beberapa rekan dalam pergerakan yang sama, mendapatkan donasi bernilai jutaan rupiah dari Deutsche Bank. Donasi itu bukan untuk disimpan Rumah Baca sendiri, tetapi buku itu dikirimkan ke Taman Baca di Lombok Nusa Tenggara Barat yang Tengah mengalami bencana gempa bumi. 

Terakhir kalinya, Yulianto telah menorehkan penghargaan dari Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indonesia Awards bidang pendidikan pada tahun 2021.

 Nilai luhur tentang Literasi Baca


Ditengah gempuran dunia digital dimana banyak warga yang lebih menyukai menonton di gadget ketimbang membaca, Yulianto memegang prinsip yang sangat luhur dan mulia sejak awal. 

Membaca buku adalah sarana untuk meningkatkan literasi , “Literasi adalah jembatan dari kesengsaraan menuju harapan.” – Kofi Annan. Jangan pernah tinggalkan literasi membaca jika engkau tidak mau kemunduran karena penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan negeri. 
 Membaca adalah melawan, menulis menciptakan perubahan. 

Selamat jalan pahlawan pegiat literasi baca,Yulianto , engkau sudah kembali ke pangkuan Yang Kuasa, tetapi benih-benih baca yang sudah kau tabur telah memperkuat fondasi literasi baca di daerah-daerah tempat engkau melakukan kegiatan.

 Ina Tanaya 

#kabarbaiksatuindonesia




Sumber referensi:
  • Meski di Amabang Gerbang Kematian Yulianto Tetap Pertahankan Rumah Baca Bintang Grobogan: TribunJateng.com 
  • Meski Jalan Berliku, Boneka Pustaka Tetap Mengajak Anak Baca Buku https://kumparan.com/lita-lestianti/

Total Tayangan Halaman