Jangan salahkan banjir,
Banjir datang karena tak ada lagi resapan,
Jangan salahkan banjir,
Banjir datang karena kita tak merawat alam
Pada tahun 2021 yang lalu, saya menyusuri jalan-jalan di Kampung Berseri Astra (KBA), RW 06 Pinang, Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang , dekat dengan Gerbang Graha Raya. Mata saya tertuju kepada tumpukan tumpukan pasir yang dibungkus dalam karung terletak di sebelah kanan kiri depan rumah warga. Saya bertanya kepada salah pengurus RT di sana, kenapa ada begitu banyak pasir yang dibungkus? Kami selalu berjaga-jaga agar setiap saat banjir datang, pasir itu dapat digunakan untuk cegah air tidak masuk ke dalam rumah, cukup di jalan saja.
Penasaran dengan jawaban itu, saya masih ingin melanjutkan pertanyaan. “Apakah Kampung RW 06 ini ngga aman dari banjir?”
“Banjir itu bagaikan suatu tradisi bagi kami. Daerah ini adalah rawan banjir. Posisi tempat tinggal warga RW 06 yang berjumlah 550 rumah dan total penghuni 1800 jiwa lokasinya berada di hilir sungai Angke dan sungai itu tidak pernah dikeruk”, katanya.
Ingatan saya kembali mundur ke belakang, tahun 2020, dimana saat itu adalah 1 Januari 2020 yang seharusnya jadi momen penting dan indah bagi warga untuk merayakan Tahun baru. Namun, hal ini tidak terjadi dengan warga RW 06 Kelurahan Pinang. Banjir kiriman yang datang tepat pada tanggal 1 Januari 2020, menjadi bencana bagi Kampung Pinang atau sering disebut dengan Kampung Berseri Astra (KBA) Pinang.
Derasnya hujan mengakibatkan Kali Angke tidak dapat menampung lagi air dan jebollah tanggul . Air banjir yang tak terbendung itu mengalir ke rumah warga RW 06 Pinang. Dalam waktu singkat banjir merendam rumah-rumah warga dari 13 RT dan 440 kepala keluarga RW 06. Hampir seluruh properti KAB Pinang berupa Rumah PAUD, alat peraga, Gerobak Baca, bibit tanaman, kulkas dan alat penyimpan lele terbawa hanyut oleh air banjir. Keadaan lebih mencekam dan kacau, masing-masing berusaha mengevakuasi dan menyelamatkan diri tanpa ada koordinasi dan tak ada yang mengetahui bagaimana cara aman untuk evakuasi.
Baru saja mereka bernafas lega, banjir kembali datang tanpa permisi . Pada tanggal 25 Pebruari 2020, air banjir meluap ke warga RW 06 Pinang. Meskipun banjirnya tidak sebesar seperti tanggal 1 Januari, tetapi banjir itu juga mengganggu aktivitas warga dan mereka harus berbenah kembali.
Bagi warga RW 06 Pinang peristiwa dua banjir itu menjadi momok. Mereka mengetahui bahwa hidupnya selalu tidak tenang, dibayangi oleh ketakutan banjir akan berulang. Apalagi dengan perubahan cuaca atau iklim global ini Bayangkan, seharusnya di bulan Juli-Agustus adalah musim panas, tetapi yang terjadi di Tangerang sering hujan besar sekali.
Ketika hujan besar datang, rasa was-was menyergap warga. Mereka takut banjir. Warga RW 06 /Pinang tak ingin bencana ini terus menerus terjadi di lingkungan rumah mereka. Mereka juga tak mungkin menunggu bantuan Pemerintah untuk mengadakan perubahan dalam mitigasi bencana.
Proklim (Program Kampung Iklim)
Berita yang menggembirakan, RW 06 Pinang mendapatkan informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ada program Proklim. Program ini untuk partisipasi warga RW 06 dalam adaptasi perubahan iklim dan mitigasi usaha berkelanjutan secara lokal, penghijauan, pengelolaan sampah.
Dalam waktu singkat, pengurus RW 06/Pinang membentuk Proklim RW 06, anggotanya terdiri dari empat pilar. Tugas utamanya membuat Standar Operating Procedure (SOP) dan prosedur tanggap darurat. Mereka harus bekerja sama dengan organisasi /lembaga yang berkaitan dengan adaptasi dan mitigasi bencana. Tentunya lembaga yang paling kompeten adalah KLHK dan CSR Astra.
Dari rasa takut jadi Aksi bersama CSR Astra
Dengan program “KBA Aman dan Tangguh”, dibuatlah struktur organisasi Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana (Satgas PDB) RW 06, bekerja sama dengan BPBD Kota Tangerang. Kegiatannya adalah pelatihan, simulasi tanggap darurat, apabila hujan tidak berhenti, akan ada informasi dari pengurus RT, RW untuk evakuasi, lakukan ke tempat yang lebih tinggi. Pertama, prioritas evakuasi untuk orang, kedua untuk kendaraan. Mereka juga harus hemat air bersih dan kran . Menyelamatkan dokumen penting, mematikan listrik dan apabila terjebak banjir, harus segera minta pertolongan kepada tetangga dan pengurus RT.
Dalam realisasi inovasi, Satgas PDB telah melakukan penggunaan lahan untuk fasilitas vital yang rentan banjir, seperti menambah ketinggian gardu PLN. Desain rumah yang sedang dibangun harus tahan terhadap air, membangun infrastruktur kedap air, melakukan pengaturan kecepatan air melalui pembangunan bendungan, tanggul, vegetasi , rehabilitasi saluran drainase. Selain itu hal yang sangat vital adalah memelihara dan menjaga pompa air.
Latihan tentang kewaspadaan banjir melalui whatsapp application, titik kumpul, latihan evakuasi lewat papan jalur titik kumpul evakuasi dan persiapan evakuasi.
Setelah berinovasi, melakukan kegiatan, evaluasi, akhirnya Tim Satgas pun memberanikan diri ikut lomba "Integrasi 4 Pilar Hadapi Bencana" dengan proposal yang telah diimplementasikan . Alhasil, tiap usaha keras pun akan mendapatkan hasilnya, KAB Pinang mendapatkan penghargaan Juara kedua dan telah mendapatkan penghargaan "Pilar Lingkungan Kategori Inovasi Kampung Aman & Tangguh Integrasi 4 Pilar Hadapi Bencana".
Aksi bersama KLHK
Tidak cukup puas dengan usaha di atas, Satgas PDB Proklim RW 06 pun mengajukan proposal ke Dinas LHK Proposal tentang kegiatan mereka dalam usaha mitigasi banjir dengan tema “Meraih Asa Proklim Madya ke Proklim Utama”.
1.Pengendalian Banjir
- Penampungan air hujan
Curah hujan yang begitu besar dan tak terserap di dalam tanah, Sungai, akibatkan airnya melimpah. Warga RW 06/Pinang, sesuai dengan prosedurnya, telah membeli 6 unit penampungan air hujan berupa tong berwarna biru. Prinsip kerjanya, dengan talang yang menampung air hujan, menyalurkan airnya ke bawah melalui talang itu dan langsung masuk ke dalam tempat wadah tong plastik itu.
Apabila tong plastik sudah penuh dengan air hujan, airnya digunakan untuk pembersihan mobil atau tanaman. Selain itu ada tiga embung tambahan. Embung terbesar di Jl.Mawar Raya.
- Biopori
Air hujan yang begitu besar volumenya dapat disalurkan ke lubang biopori. Cara kerjanya mudah, air tinggal dialirkan ke lubangnya, lalu diberikan sampah sebagai biota.
- Sumur resapan
dari usaha untuk menghindari banjir dengan membangun sumur resapan sebanyak 12 titik . Kedua belas titik itu berada di Hutan kota sebanyak 4 titik, jalan Anggrek Cattleya sebanyak 3 titik, Jalan Anggrek Dara sebanyak 3 titik, dan Jalan Melati sebanyak 2 titik.
Cara kerjanya air hujan jatuh ke atas atap rumah tidak dialirkan ke selokan tetapi dialirkan dengan gunakan pipa atau saluran air ke dalam sumur, gunanya mengurangi volume air dan mengurangi jumlah limpasan.
- Rorak dan penggunaan air hujan
Pembangunan rorak berupa saluran buntu di rumah yang kosong tak berpenghuni, untuk menjebak aliran air di permukaan dan menyalurkannya ke dalam tanah. Fungsinya selain untuk konservasi juga untuk penimbunan bahan organic.
Air hujan pun ditampung oleh warga di setiap rumah untuk dipakai lagi untuk mandi, mencuci baju dan lainnya.
- Saluran pengelolaan air (SPA)
Saluran air pengelolaan air sepanjang 2,6 km dibangun untuk memperlancar arus air dengan lebih cepat dan ke luar .
2.Aksi Mitigasi
Warga RW 06 /Pinang telah menetapkan untuk mengurangi Gas Rumah kaca dan kurangi pemanasan global dengan empat cara yaitu:
- Pemisahan dan pengolahan sampah
- Penggunaan pupuk organic
- Menggunakan Energi Baru Terbarukan/Hemat Energi
- Menambah vegetasi/penghijauan
- Pemisahan dan pengolahan sampah
Sampah ada di setiap rumah warga termasuk warga RW 06/Pinang. Untuk mengolah sampah, mengurangi limbah serta mendaur ulang jadi tantangan bagi warga. Dulunya mereka belum paham Konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).
Dalam edukasinya oleh Remaja Bank Sampah Astra, mengajarkan kepada warga bagaimana sampah dipilah sesuai dengan jenisnya, organik dan anorganik.
Untuk sampah basah atau organik (sayur-sayuran, buah-buahan) , mereka memasukkan ke dalam tong dan membiarkannya selama beberapa hari sehingga berubah menjadi kompos. Kompos itu dapat mereka gunakan untuk pupuk tanaman yang berada di pekarangan rumah, atau rumah pembibitan.
Untuk sampah kering atau anorganik, mereka akan mendaur ulang galon air mineral jadi pot bunga dan tutup emer plastic untuk jadi hiasan. Kertas dan karton digunakan untuk daur ulang membungkus atau menyerahkan ke Bank Sampah.
Semua kegiatan dari pemilahan hingga pengolahan sampah dilaporkan ke aplikasi Bank Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang. Hasil Tabungan ini dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga.
- Menggunakan pupuk organik
Dari beberapa pusat tanaman dan benih, Warga RW 06/Pinang selalu gunakan pupuk organik hasil olahan dari para warga sendiri. Selain hemat, juga mereka dapat menghasilkan sayur dan buah-buahan yang berkualitas tinggi. Pupuk juga digunakan untuk tempat pembibitan Kebun Cempaka.
- Menggunakan energi terbarukan
Hemat energi adalah salah satu usaha untuk selalu mematikan lampu atau listrik yang tidak dipakai. Selain itu mereka juga punya cara jitu dalam penggunaan solar cell untuk lampu penerangan jalan . 9 unit lampu jalan sudah gunakan energi solar cell.
- Menambah vegetasi atau tanaman
Saya kagum dengan kegiatan warga dalam penghijauan di pekarangan rumahnya. Meskipun halaman rumah untuk menanam tidak besar, tapi usaha untuk menghijaukan lingkungan jadi asri, dengan banyaknya pot-pot bunga dan tanaman hijau di pot.
Aneka sayuran ditanam di Kebun Cempaka. Untuk tanaman lebih besar ada di hutan Kota Pinang seluas 3000 m2 menjadi tempat yang teduh sekaligus tempat mempertahankan tutupan vegetasi.
3.Sarana Pengendalian Banjir
Mengendalikan banjir tak selamanya mudah, tapi harus punya cara yang taktis dan tepat. Warga RW 06/Pinang telah mempunya strategi untuk pengendaliannya yaitu:
- Sistem Polder/Pompa air
Persiapan untuk banjir dengan 9 unit pompa air.. Para petugasnya adalah warga sendiri. Ada rincian tugas dan kewajiban dalam persiapan pompa air itu termasuk cek alat-alatnya yang harus dalam kondisi baik saat akan digunakan.
- Tanggul banjir Kali Angke
Bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, mulai melakukan persiapan pelaksanaan normalisasi Kawasan Daerah Aliran Sungai Kali Angke.Meminimalisir risiko banjir ketika hujan tinggi dan deras.
Usaha keras warga RW 06 /Pinang untuk ikut lomba Proklim di KLHK membuahkan hasil dengan menjadi Pemenang Utama Sertifikat Proklim Utama Nasional . Usaha selanjutnya adalah persiapan pengajuan Sertifikat Proklim Lestari (Sertifikat tertinggi)ke Dinas LH Tangerang.
Hidup dalam lingkungan rawan banjir telah mengubah tekad untuk aksi mitigasi dan adaptasi sehingga berhasil mampu menghadapinya. Moto warga RW 06/Griya “Banjir bukan lawan, tetapi bencana harus diantisipasi dan dimitigasi”.
#kabarbaiksatuindonesia