Kantor lamaku adalah sebuah perbankan asing. Aku masih ingat sekali saat rekrutmen, ada beberapa sainganku yang cukup berat. Mereka itu semuanya lulusan dari luar negeri. Tinggal aku sendiri yang lulusan lokal. Begitu juga ketika diwawancari, rasanya percaya diriku hampir hilang karena belum apa-apa aku sudah merasa tak mampu bersaing dengan mereka yang punya kemampuan berbicara dan berkomunikasi lancar dalam bahasa Inggris.
Sementara diriku, aku harus bicara dalam bahasa Inggris dengan tersendat-sendat. Akhirnya, aku merasakan “blessing” saat aku diterima bukan sebagai kandidat utama tetapi kandidat back-up .
Dalam suasana yang asing ketika menginjakkan kaki pertama kali, aku tidak bisa membayangkan bahwa ruang tempat kerjaku itu yang terkecil di antara mereka yang punya meja dan tempat computer tersendiri. Aku memang merasa kaku ditengah pergaulan teman-teman yang kelihatannya sudah begitu terbiasa dengan suasana terbuka , selalu kompak sebagai anggota dari suatu unit kerja.
Kekakuanku ini mulai pudar dan mencair ketika salah satu manajer memberikan “job description” kerja tentang tugas kerjaku .
Divisi kerja dibagi per industry, kebetulan di tempatku kerja termasuk divisi Chemical dan Petrochemical. Para manajer yang jadi ujung tombak dari marketing adalah mereka yang selalu mencari klien baru dan mencari projek kredit baru . Tugasku adalah membantu para manajer yang harus membuat laporan dan segala proposal ke atasan untuk pemberikan kredit.
Aku mulai familiar dengan semua orang yang ada dalam divisiku.
Namun, aku belum kenal teman-teman selevel di divisi lain. Aku berpikir bagaimana berkenalan lintas divisi karena belum ada seorang pun yang memperkenalkanku.
Kesempatan itu datang ketika ada teman-teman yang makan siang di suatu ruangan aku mulai mengenal satu persatu teman-temanku. Setiap siang makan bersama merupakan cerita yang unik, ada yang dengan mudahnya berkenalan dan langsung jadi teman dekat.
Sementara diriku, aku belum bisa memiliki teman dekat seorang pun. Aku tipe introvert yang selalu mencari orang yang benar-benar punya value dan nilai-nilai yang sama sehingga dalam percakapan seperti “klik”.
Tidak bekerja dalam satu divisi tapi selalu dekat di hati
Setelah berkenalan hampir dua tahun, aku mulai kenal satu persatu mengenal lebih dalam siapa teman-teman di lingkungan kerja .
Cara pendekatan yang paling ampuh yang aku lakukan adalah mencari orang yang memang memiliki persamaan value , aku tak peduli latar belakang, tak peduli apakah dia lebih senior , tak peduli apakah dia sombong di luarnya.
Masing-masing temanku punya kepribadian yang perlu dipelajari. Posisi kami selevel, jadi apabila ada seseorang yang cuti, kami harus saling memback up.
Contohnya teman saya Tantri (bukan nama sebenarnya) cuti, maka saya akan back up pekerjaannya. Demikian juga jika saya cuti, Tantri akan back up saya mengerjakan pekerjaan saya.
Dari pekerjaan back-up pun saya mengenal siapa teman yang baik. Ada teman yang sangat “sempurna”, jika dia cuti, saya mengerjakan pekerjaannya, harus diserahkan semua berkas pekerjaan seperti yang diinginkannya. Dia akan ngomel berat apabila hasilnya tak sesuai dengan yang diinginkna.
Anehnya, ada seorang teman yang justru saya tak mengenal dekat secara “heart to heart”, tapi saya melihat dengan mata hati saya, dia ini teman sejati.
Sayangnya ketika saya baru saja kenal teman say aini, sekitar setahun, dia harus “resign” dari pekerjaan karena akan menjadi permanent residence di Amerika Serikat.
Dalam perjalanan berikutnya, saya pikir relasi kami sebagai teman akan berakhir dengan kepindahannya. Ternyata, begitu dia pindah di sana, dari hari ke hari, kami makin dekat. Apa pun yang sedang kami alami, baik saat bahagia maupun senang, sakit , kami selalu sharing bersama. Rasanya tak ada teman yang begitu dekat secara "heart to heart" yang mau mendengar keluhan , kesedihan yang sedang menimpa kami . Begitu dekatnya sehingga kami sering merasakan bonding dan attachement itu bagaikan lebih dari saudara sendiri.
Puncaknya ketika ibu dari teman kami yang merupakan tetangga saya, meninggal dunia. Tentu teman kami tidak bisa pulang dalam pulang dalam waktu singkat. Dia minta tolong agar mengurus semua acara dari acara penghiburan hingga kremasi. Meskipun saya tak mengurus sendiri, tetapi minta bantuan orang lain, tetapi rasa kehilangan juga dengan ibu teman yang telah dianggap sesperti ibu sendiri.
Perjalanan panjang masih kami alami bersama-sama, dalam suka maupun duka. Tahun 2024 temanku ini pulang ke Indonesia, meskipun singkat berjumpa dengan saya karena dia harus membagi waktu dengan keluarganya, saya sangat senang dan bahagia.
Itulah yang disebut teman serasa keluarga.



